‘Bosan Menguat’, Rupiah Loyo di Awal Pekan

rupiah melemah

harus berbalik melemah pada pembukaan awal pekan (24/7) ini di tengah penantian atas rapat Federal Reserve tengah pekan nanti. Seperti dilaporkan Index, Garuda membuka dengan melemah 5 poin atau 0,04% ke level Rp13.318 per . Sebelumnya, pada tutup dagang akhir pekan (21/7) lalu, spot mengakhiri transaksi di posisi Rp13.313 per dolar .

direncanakan akan memulai pertemuan pada Rabu (26/7) mendatang waktu setempat yang diperkirakan masih akan mempertahankan arah kebijakannya. Para investor saat ini sedang menantikan pernyataan Bank Sentral AS tersebut untuk mendapatkan petunjuk tentang rencana para pembuat kebijakan untuk mulai mengurangi neraca.

Data inflasi merupakan salah satu indikator utama stabilitas perekonomian AS, sehingga bank sentral perlu melakukan pengetatan moneter. Sayangnya, tingkat inflasi di Paman Sam pada bulan Juni 2017 stagnan di posisi 0%, naik dari deflasi 0,1% pada bulan sebelumnya, namun masih di bawah estimasi konsensus yang sebesar 0,1%.

Sebelumnya, dalam sebuah pernyataan, Gubernur The Fed, Janet Yellen, sempat menekankan kembali rencana bank sentral untuk terus memperketat kebijakan moneter mereka secara bertahap. Namun, pesan paling penting dalam testimoni Yellen adalah mengenai inflasi yang melemah, sehingga menonjolkan nada dovish.

“Sebelumnya, sepanjang pekan lalu, rupiah mampu berkibar karena dominasi faktor eksternal dari laju dolar AS yang melempem,” ujar Research and analyst PT Monex Investindo Futures, Putu Agus Pransuamitra.”Setidaknya, ada tiga faktor yang menekan pergerakan mata uang , yaitu menurunnya data inflasi AS, sikap dovish Federal Reserve, dan kontroversi seputar Presiden .”

Dolar AS, lanjut Putu, selama pekan kemarin memang melemah terhadap sejumlah mata uang utama dan emerging market. Sentimen tersebut lantas mendorong penguatan mata uang Garuda. Dalam jangka pendek, sentimen eksternal masih lebih dominan memengaruhi rupiah. “Mata uang Garuda berpotensi menguat terbatas di rentang Rp13.280 sampai Rp13.360 per dolar AS,” pungkas Putu.

Loading...