Bola Panas Masih Bergulir, Kesepakatan Indonesia-Freeport Perlu ‘Digali’

Indonesia dan Freeport - tirto.idIndonesia dan Freeport - tirto.id

JAKARTA – Pada akhir Agustus 2017 lalu, pemerintah Indonesia dan Freeport McMoRan yang merupakan induk PT Freeport Indonesia telah mencapai mengenai kemitraan mereka. Namun, rincian (termasuk skema divestasi, timeline, dan valuasi ) masih perlu dipalu, dan ini terbukti bisa sangat sulit.

Dilaporkan , ketegangan antara kedua belah pihak sempat meningkat setelah pemerintah Indonesia mengeluarkan peraturan baru tentang pertambangan dan mineral di bulan Januari yang mewajibkan setidaknya 51 persen divestasi akan dilakukan secara bertahap dalam waktu 10 tahun. Freeport mengatakan bahwa peraturan tersebut melanggar kontrak kerjanya saat ini, yang ditandatangani pada tahun 1991.

Namun, kesepakatan tidak terduga datang lebih dari sebulan menjelang deadline 10 Oktober 2017. ESDM, Ignasius Jonan, mengatakan sebuah bahwa ‘kesepakatan akhir’ dengan Freeport tercapai pada 27 Agustus 2017 dalam sebuah pertemuan antara CEO , Richard Adkerson, dengan energi dan Indonesia.

Hasil negosiasi sesuai dengan instruksi Presiden Joko Widodo untuk memajukan kepentingan bangsa dan Papua, untuk (menunjuk) kedaulatan nasional atas sumber daya alam, dan untuk menjaga agar iklim tetap kondusif bagi , kata Jonan. Sementara, Adkerson berkata bahwa mereka menghargai kepemimpinan Presiden Joko Widodo dan mendengarkan dengan saksama keinginan dan sasaran yang telah disampaikan kepada mereka.

Freeport mengatakan akan secara resmi mengajukan IUPK untuk mengganti kontrak saat ini yang akan berakhir pada tahun 2021 mendatang, dan juga untuk perpanjangan 10 tahun pertama untuk operasi Grasberg-nya, sebuah proses yang menurut Jonan ‘dapat segera dimulai’. Namun, rincian kesepakatan (termasuk skema divestasi, timeline, dan valuasi saham) masih perlu dipalu, dan ini bisa terbukti sulit.

Pemerintah Indonesia saat ini memiliki 9,36 persen saham di Freeport Indonesia. Perusahaan sebelumnya setuju untuk meningkatkan saham menjadi 30 persen, namun kesepakatan tersebut gagal karena kedua belah pihak tidak setuju dengan nilai tambang. Tahun lalu, menurut Reuters, Freeport menawarkan saham 10,64 persen di Grasberg seharga 1,7 miliar dolar AS, dengan nilai tambang sekitar 16,2 miliar dolar AS, sementara pemerintah hanya bersedia menawarkan 630 juta dolar AS.

Distribusi saham divestasi juga belum dilunasi. Peraturan menetapkan bahwa pemerintah pusat dan pemerintah daerah di Papua harus memiliki prioritas. Pilihan lainnya termasuk perusahaan negara, perusahaan swasta, dan pasar saham. Menteri BUMN, Rini Soemarno, sempat mengatakan, perusahaan induk penambang BUMN akan menjadi pembeli yang paling tepat. Namun, para analis berpendapat bahwa Indonesia tidak diperlengkapi untuk mengambil alih aset utama, mengingat pemerintah yang kekurangan dana dan kurangnya perusahaan pertambangan lokal yang kuat.

Keterlibatan penambang Anglo-Australia, Rio Tinto, yang berhak atas 40 persen produksi dari cadangan Grasberg setelah tahun 2022, semakin memperumit masalah ini. Adkerson mengatakan bahwa Freeport juga mewakili Rio Tinto dalam negosiasi dengan pemerintah Indonesia. “Dan, pandangan saya sendiri adalah jika Freeport melihat bahwa perubahan ini sesuai dan berlaku seperti yang kita katakan hari ini, maka kita akan dapat memperoleh persetujuan Rio Tinto,” katanya.

Ada juga soal pembayaran pajak dan royalti. Untuk mengimbangi masyarakat, pemerintah mengatakan perusahaan pertambangan harus membayar lebih banyak dari mereka, tetapi berapa jumlah yang harus dihitung, dan akan dikenai pajak baru dan kebijakan royalti untuk sektor pertambangan yang diharapkan, baru akan dirilis ‘segera’.

Adkerson hanya mengatakan bahwa perusahaan akan mengerjakan tingkat pajak dan pembayaran non-pajak yang sesuai dengan kewajiban mereka saat ini berdasarkan kontrak. Sementara, untuk saat ini, dengan menyetujui persyaratan Indonesia, Freeport akan dapat melanjutkan ekspor konsentrat tembaga selama lima tahun dan bukannya berhenti pada 10 Oktober mendatang.

Loading...