BoJ Tak Menambah Stimulus, Rupiah Meroket lagi

Jakarta – Rupiah masih terus melanjutkan penguatan pada pembukaan sesi pagi ini. sebesar 47 poin (0,34%), Rupiah dibuka pada level Rp 13.761 per AS pada Selasa pagi (22/12). Padahal, Rupiah telah menguat sejauh 110 poin pada penutupan perdagangan Senin kemarin (21/12).

Mata uang Garuda mengukir catatan sebagai mata uang yang paling tinggi di kawasan regional Asia, sekaligus menempati posisi ke-2 sebagai mata uang terkuat di antara mata uang negara berkembang lainnya di dunia.

Research and Analyst PT Monex Investindo Futures Agus Chandra, mengatakan bahwa kebijakan Bank Sentral () untuk tidak menambah stimulus moneter secara tidak langsung menjadi penolong Rupiah.

“Pasca keputusan BoJ Jumat lalu (18/12), Dolar AS melemah, sehingga mengangkat Rupiah,” katanya.

Sementara itu, sentimen positif juga bergulir dari dalam negeri terkait optimisme pada outlook Rupiah di tahun selanjutnya. Deputi Gubernur (BI) Perry Warjiyo berpendapat, nilai tukar Rupiah akan lebih terkontrol di tahun 2016 setelah Bank sentral AS (Federal Reserve) menaikkan tingkat acuan.

Senada dengan Perry, Research and Analyst Divisi Tresuri Bank Trian Fathria juga menilai Rupiah akan terus bergerak ke teritori hijau dikarenakan arah kenaikan suku bunga The Fed telah bisa diprediksi.

“Keputusan BI mempertahankan suku bunga juga sesuai harapan,” imbuh Trian.

Selanjutnya, data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang akan segera dirilis pada hari ini menjadi sentimen yang paling mempengaruhi pergerakan Rupiah.

Loading...