Dibocorkan Eks Napi, Begini Boboroknya Sistem Penjara di Indonesia

Sistem Penjara di Indonesia - www.forbes.comSistem Penjara di Indonesia - www.forbes.com

JAKARTA – Kebobrokan kondisi Pemasyarakatan Salemba, Jakarta, yang diungkapkan oleh eks tahanan , Surya Anta, membuat sejumlah pihak meminta Hukum dan HAM, Yasonna Laoly, segera melakukan penyelidikan langsung ke lapangan dan mengatasi masalahnya. Ini termasuk dugaan penyuapan terhadap sipir penjara, kapasitas sel, hingga yang diberikan untuk narapidana.

Dilansir dari TRT World, pada tanggal 12 Juli, Surya Anta menggegerkan publik ketika men-tweet foto-foto fasilitas penjara LP Salemba, yang menunjukkan sebuah ruangan yang penuh dengan beberapa lusin narapidana dan koridor sempit yang diisi dengan narapidana yang berbaring bersebelahan, seperti ikan rebus. Surya sendiri adalah seorang tahanan politik yang didakwa dengan ‘alasan’ menggelar protes dan mengibarkan Bendera Bintang Kejora di istana presiden, membuatnya dipenjara sembilan bulan.

Pada awal penahanannya di Salemba, Surya dan kawan-kawan tinggal dalam satu balai dengan 420 narapidana, yang disebut narapidana ‘orientasi’. Salah satu gambar yang dia unggah melalui Twitter berasal dari waktu itu. ‘Tidur seperti ikan rebus’, demikian dia memberi judul gambar, yang menunjukkan ratusan tahanan di satu aula.

Hanya ada dua mandi di aula, air mengalir tiga kali sehari dalam dua pancuran dan empat keran, sedangkan TV di aula cuma tersedia satu unit. Perkelahian hebat sering terjadi, kadang-kadang pada masalah sepele seperti seseorang yang tiba-tiba mengubah saluran. Tanpa akses ke dapur dan fasilitas dapur, mereka membakar botol plastik untuk merebus air dan terkadang memanjakan diri dengan kopi atau mie instan. “Udara sangat tercemar. Penjara itu penuh orang ,” kata Surya.

Suatu hari, dia menderita demam dan mimisan. Itu adalah mimpi buruk bagi siapa pun yang jatuh sakit di dalam penjara, karena akses ke perawatan yang sulit. Klinik baru buka di pagi hari dan perawatan terbatas hanya untuk delapan belas narapidana setiap hari. Ketika dia berkunjung, obat di klinik sudah habis dan dokter tidak terlalu peduli dengan kondisi kesehatan narapidana. Mereka meresepkan satu jenis obat untuk setiap narapidana yang sakit, tidak peduli penyakitnya. “Untung obatnya berhasil untuk saya,” sambung Surya.

Masalah LP Salemba tidak berhenti di situ. Dibangun dengan kapasitas 1.500 narapidana, penjara ini ternyata dihuni setidaknya 3.300 orang. Fasilitas penjara mewujudkan ketidaksetaraan sosial Narapidana kaya, yang dituduh melakukan korupsi dan penggelapan keuangan, dapat menyuap sipir untuk memperoleh sel yang lebih baik. Ruang bersih dan luas yang terletak di Block-O sama mahalnya dengan apartemen studio di kota metropolitan global mana pun. Para narapidana kaya, yang sebagian besar karena kasus korupsi, membayar Rp50 juta hingga Rp70 juta untuk setiap sel per minggu.

Sebaliknya, mereka yang tidak mampu membeli, harus rela mendapatkan tempat tidur di lorong. Surya sendiri cukup beruntung mendapat dukungan dari aktivis hak asasi manusia, yang menekan otoritas penjara untuk memindahkannya ke sel terpisah dan jauh dari kerumunan yang mencekik. Ruangan itu seluas 12 meter persegi, dibagi menjadi satu ruang bawah dan satu ruang atas. “Kelihatannya seperti sel dua lantai, ditempati oleh delapan narapidana,” tambahnya.

Surya dan empat narapidana lainnya menghabiskan hari-hari mereka di ujung bawah sekat. Ketiganya menempati ujung atas, yang kemudian dikenal sebagai ‘apotek’ atau toko obat. Bukan obat untuk sakit, melainkan sabu-sabu dan narkoba lainnya. Surya mendengar bahwa narkoba itu diselundupkan dari luar, membantu beberapa narapidana bertahan dari hari-hari sulit di balik jeruji besi. “Jika tidak ada sabu-sabu, beberapa narapidana mengalami gangguan saraf dan akan melakukan kekerasan,” sambung Surya.

Surya adalah representasi kecil dari masalah yang lebih besar dalam sistem penjara di Indonesia. Menurut Human Rights Watch (HRW), penjara dan pusat penahanan di Indonesia menahan hampir 270.000 narapidana hingga Maret tahun 2020, atau lebih dari dua kali lipat dari total kapasitas sebenarnya. Lembaga itu meminta pihak berwenang Indonesia untuk membebaskan semua tahanan dan mengosongkan fasilitas penahanan sehubungan dengan pandemi COVID-19.

Kematian seorang narapidana dengan gejala COVID-19 pada bulan Maret lalu memicu kepanikan dan kecemasan di antara narapidana dan kerabat mereka di seluruh negeri. Di beberapa penjara terjadi kerusuhan yang disertai kekerasan saat narapidana jatuh sakit dan semakin gelisah di tengah pandemi. Menurut Surya, itu tidak lebih dari sebuah ‘neraka’ karena mereka tidak diperlakukan sebagai manusia.

Saat foto-foto Surya beredar di Twitter, Yasonna Laoly memerintahkan penyelidikan penjara Salemba. Rika Aprianti, juru bicara Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, menuturkan bahwa pihaknya berjanji akan mengevaluasi dan memperbaiki sistem. “Jika kami menemukan penyimpangan, kami akan menindak semua orang yang terlibat,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Rumah Tahanan Salemba, Renharet Ginting, seperti disalin dari Tempo, menuturkan bahwa terkait unggahan Surya Anta, sudah ditangani oleh Direktur Jenderal Pemasyarakatan dan Kepala Kantor Wilayah, serta Inspektorat Kementerian Hukum dan HAM. Ia sendiri mengklaim bahwa kondisi di LP Salemba sekarang sudah jauh berbeda.

Loading...