Saham Dicaplok Gojek, Blue Bird: Taksi Konvensional & Online Bisa Berdampingan

Taksi Blue Bird - membelipengalaman.blogspot.comTaksi Blue Bird - membelipengalaman.blogspot.com

JAKARTA – yang menyediakan pemesanan kendaraan antar-jemput via , seperti Gojek dan Grab, mungkin telah mengganggu atau bahkan menggerus eksistensi moda transportasi tradisional. Namun, operator terbesar di , Blue Bird, mengatakan bahwa kedua jenis penyedia dapat hidup berdampingan dan menciptakan layanan yang lebih baik bagi masyarakat.

“Pendapatan perusahaan memang turun setelah tahun 2016 karena persaingan yang ketat, yang didorong oleh ojek online. Namun, situasi telah stabil karena lebih banyak di startup yang menuntut keuntungan dan keberlanjutan,” ujar Presiden Direktur Blue Bird, Noni Purnomo, dalam Forum Nikkei Jakarta 2020, pada Selasa (25/2) kemarin. “Setelah perang berakhir, saya pikir kita semua dapat bekerja sama karena pasarnya besar.”

Ia melanjutkan, setelah Uber Technologies go public (tahun 2019 lalu), investor mulai mengharapkan keuntungan dari perusahaan-perusahaan semacam itu. Sehingga, itu berarti mereka tidak dapat membakar uang sebanyak yang mereka lakukan sebelumnya. “Juga, dengan peraturan pemerintah tentang skema penetapan harga (ojek dan taksi online), itu mulai dinormalisasi,” sambungnya.

“Operator taksi konvensional dan layanan ojek dan taksi online adalah ‘dua hewan yang sama sekali berbeda’, yang beroperasi di segmen yang berbeda,” tambah Noni. “Untuk yang terakhir, menangani mobil dan pengemudi lebih sulit daripada menangani gadget, juga mengalami kesulitan dalam mengelola teknologi dan pekerja atau rider.”

Blue Bird sendiri, yang didirikan pada tahun 1972, sudah mengoperasikan 23.000 armada taksi reguler di seluruh Indonesia, dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp5,75 triliun. Sejak pertengahan 2010-an, perusahaan tersebut mendapatkan tantangan dari Gojek dan Grab, startup yang berlomba-lomba untuk mendapatkan supremasi di .

Saat ini, Blue Bird memperdalam kolaborasi dengan Gojek, ketika manajemen PT Aplikasi Karya Anak Bangsa (Gojek) menginvestasikan sekitar 30 juta dolar AS atau mengambil 4,3% saham di perusahaan. Meski Noni tidak menjelaskan lebih lanjut tentang ikatan tersebut, ia berkata bahwa pihaknya menyambut investor dan mitra strategis apa pun sehingga dapat menumbuhkan perusahaan bersama.

Tautan dengan Gojek dapat membantu Blue Bird menciptakan lebih banyak layanan berbasis teknologi. Sehubungan dengan visi pertumbuhannya di masa depan, ia mengatakan, Blue Bird lebih dari sekadar perusahaan taksi dan bertujuan untuk menjadi perusahaan layanan mobilitas. “Apa yang dibutuhkan oleh masyarakat, lebih merupakan platform terintegrasi yang membuat hidup seseorang lebih mudah dalam hal transportasi. Saya pikir, dalam hal ini kita bergerak menuju mobilitas sebagai layanan,” pungkas Noni.

Loading...