Bisnis Korea Utara di Asia Tenggara Seret Usai Pembunuhan Kim Jong-nam

Pyongyang Restaurant - asia.nikkei.com

JAKARTA – Utara di perlahan mengalami masa suram usai kasus pembunuhan saudara tiri Kim Jong-un, pemimpin tersebut. Terbaru, restoran Pyongyang di Jakarta Utara pada Selasa (21/3) kemarin memutuskan menghentikan operasinya, yang mengakibatkan para wanita Utara yang bekerja di restoran tersebut terpaksa pulang ke kampung halaman.

di restoran telah memudar karena sentimen anti-Pyongyang tumbuh di Indonesia. Publik Tanah Air beropini bahwa Siti Aisyah ditipu dan digunakan oleh agen Korea Utara, yang mengakibatkan Siti Aisyah diduga sebagai salah satu aktor pembunuhan Kim Jong-nam di Kuala Lumpur beberapa waktu lalu.

Sebenarnya, banyak negara di Asia Tenggara yang menjalin hubungan baik dengan Korea Utara. Pyongyang juga telah mengoperasikan sejumlah bisnis, seperti restoran dan ekspor tenaga kerja, termasuk perusahaan . Pyongyang mengoperasikan sekitar 130 restoran, termasuk di China, Asia Tenggara, dan di tempat lain. Tetapi, kasus pembunuhan Kim Jong-nam membuat bisnis di luar negeri menjadi seret. Ini masih ditambah dengan pengujian nuklir dan peluncuran rudal jarak jauh Korea Utara yang membuat Korea Selatan mendesak warganya untuk tidak mengunjungi restoran ini lagi.

Memburuknya hubungan dengan Asia Tenggara juga menyebabkan masalah untuk industri pariwisata Korea Utara. Sebelumnya, Malaysia menjadi tuan rumah pariwisata regional, yang telah menarik pengunjung dari negara-negara tetangga serta India. Tetapi, karena insiden Kim Jong-nam, Malaysia telah membatalkan bebas visa masuk bagi warga negara Korea Utara, dan banyak agen-agen perjalanan yang tampaknya telah menghentikan tur perjalanan ke Korea Utara.

Di awal bulan Maret ini, Malaysia juga telah menangkap 37 warga Korea Utara yang bekerja di negara tersebut, atas dugaan pelanggaran, termasuk over visa. Menurut media lokal, Malaysia juga dikabarkan akan mendeportasi 50 warga Korea Utara pada bulan ini. Sebelumnya, sejumlah negara bagian Malaysia memiliki perjanjian dengan Korea Utara untuk menerima buruh, seperti bekerja di tambang batubara, tetapi rupanya banyak yang tinggal lebih lama dari waktu yang diizinkan secara hukum.

Lebih dari 50.000 buruh Korea Utara bekerja di luar negeri, dengan penghasilan sebesar 2,3 miliar AS setahun, menurut laporan PBB. Perempuan yang bekerja di restoran Korea Utara tidak mendapatkan libur dan bekerja minimal 10 jam sehari. Sementara, penambang batubara hanya mendapatkan satu atau dua hari istirahat dalam sebulan dan harus menyerahkan setidaknya 90 persen dari gaji mereka kepada . Kelompok hak asasi manusia telah mengutuk kondisi ini sebagai pelanggaran hak-hak dasar.

Loading...