Bisnis Kaset Pita, Masih Laku Meski ‘Tak Kelihatan’

kaset-pita-tape

Tren digital yang terus berkembang memang membuat mendengarkan musik melalui kaset pita menjadi sesuatu hal yang langka. Namun, kemajuan ini bukan berarti mematikan kaset pita, piringan hitam, atau VCD original. Bahkan, peminat kaset pita ada, meski tidak terlalu kelihatan.

“Pasarnya (kaset pita) masih ada. Peminatnya ada, namun tidak kelihatan,” kata pemilik Bersandar Store di Pontianak, Aditya Hermawan. “Bahkan, setiap bulan ada saja yang datang mencari kaset baru.”

Dikatakan Aditya, di bedak miliknya yang berada di Parklife Creative Space, Jalan Karimata No. 64, terdapat lebih dari 200 CD album original dan kaset pita. Untuk CD, rata-rata album baru, sedangkan kaset pita kebanyakan ‘second hand’. “Sebaran dan penjualan kaset pita memang tidak seramai bajakan karena mereka yang memilih membeli kaset pita asli merupakan orang yang paham tentang nilai sebuah karya,” sambung Aditya.

Sementara itu, menurut owner label Nanaba Records, Jodi Setiawan, meski kini ada yang menawarkan kemudahan dalam mengakses musik layaknya Spotify atau , romansa mendengar kaset sambil membolak-balik cover merupakan euforia yang tidak dapat tergantikan. “Pada dasarnya, orang Indonesia suka mengoleksi sesuatu, apalagi yang bentuknya lucu seperti kaset,” kata Jodi.

“Bukan hanya bentuk fisiknya yang estetik, namun musik yang direkam dalam format kaset itu unik,” sambung Jodi. “Selain kaset yang tidak mengenal mode playback acak atau shuffle, musik di dalamnya lebih rapat.”

Ditambahkan Jodi, sensasi mendengarkan lagu lewat kaset pita benar-benar beda, mulai awal hingga akhir. “Jadi, kita bisa menikmati seluruh album secara detail,” katanya.

Di luar negeri sendiri, merilis album dalam kaset pita kembali menjadi tren. Sejumlah band indie dan mainstream di Australia pada awal 2016 lalu ramai-ramai merilis musik mereka dalam format analog tersebut. Demikian juga di lain seperti , Inggris, dan Skotlandia. Biaya produksi kaset pita yang lebih murah dibandingkan CD menjadi salah satu alasan mengapa format ini dinilai lebih praktis, selain unsur nostalgia.

Loading...