Bisa Dijadikan Bahan Bakar Mesin Diesel, Harga Minyak Jelantah Per Liter Dijual Sekitar Rp 2.500

harga, minyak, jelantah, per, liter, bio, diesel, bahan, bakar, mesin, dijual, kembali, pengecer, pertamina, inovasi, genoil, gorengan, penjual, habis, pakai, kesehatan, merugikan, konsumen, minim, polusiMinyak bekas pakai/minyak jelantah (sumber: detik.com)

jelantah atau habis pakai oleh sebagian orang biasanya akan dijual kembali. Harga jual jelantah per liter sekitar Rp 2.500. jelantah yang laku dijual lagi biasanya digunakan untuk pembuatan bio .

Seperti yang dilakukan oleh Yayasan Lengis Hijau. Direkturnya, Indra Setyawan mengatakan bahwa ide memanfaatkan minyak jelantah sebagai bahan bakar mesin diesel itu berawal dari banyaknya limbah hotel dan restoran yang ada di Bali. Hotel dan restoran kerap kali menjual limbah minyak jelantah ke warung-warung kecil. Oleh pemilik warung, biasanya digunakan untuk menggoreng makanan. Hal itu dianggap bisa merugikan kesehatan konsumen.

Akhirnya, pada tahun 2013, Indra berhasil menekan penggunaan minyak jelantah dengan membuat mesin pengolahan limbah ini menjadi bahan bakar mesin diesel bernama biodiesel.

Soal harga, pihaknya membeli minyak jelantah sebesar Rp 2.500 per liter dari hotel dan restoran. Setelah diolah, hasilnya berupa biodiesel dijual dengan harga Rp10.000 per liter. “Memang lebih mahal daripada solar biasa, tetapi kalau dari segi menjaga lingkungan justru masih ada yang mau menggunakan,” tutur Indra.

Biodiesel memiliki beberapa keuntungan mulai dari titik bakar yang lebih tinggi sehingga pembakaran lebih sempurna, menjadikan mesin lebih bersih, mesin diesel menjadi bekerja lebih baik, dan minim . “Berbeda dengan solar yang akan meninggalkan kerak pada tangki maupun saluran pipa,” ujar Direktur Yayasan Lengis Hijau itu.

Pemanfaatan minyak jelantah menjadi bio diesel juga dilakukan oleh Andy Hilmy Mutawakkil dan temannya. Hal itu bermula dari keprihatinannya saat berkunjung ke Pantai Pannampu, Makassar. “Waktu itu ada kelangkaan solar, jadi banyak nelayan tak bisa melaut,” kata Hilmy.

Bersama teman sekolahnya, Ahmad Sahwawi, Hilmy kemudian mencoba membuat biodiesel dari minyak jelantah. Lalu, empat teman lainnya, Achmad Fauzy Ashari, Rian Hadyan Hakim, Jonathan Akbar dan Fauzy Ihza Mahendra bergabung. Modal yang digunakan berasal dari penjualan , mobil, sampai tanah keluarga.

Hasilnya, uang Rp 360 juta mereka gunakan untuk merakit mesin di garasi rumah milik keluarga Achmad Fauzy. Kemudian, CV Garuda Energi Nusantara (Genoil) pun berdiri.

“Sambil kuliah, semua kami kerjakan sendiri, potong-sambung pipa, gerinda, mengecat, sampai jago semua,” ujar Achmad Fauzy, salah satu teman Hilmy yang juga penggiat ide bio diesel dari minyak jelantah itu.

Dengan mesin berkapasitas 4.000 liter, ide bisnis itu dijalankan. Genoil memberdayakan preman yang sudah insaf sebagai penghubung. Hampir setiap hari, para preman membeli jelantah dari penjual gorengan seharga Rp 1.000-1.500 liter, kemudian mengirimnya ke Genoil, dan dibeli seharga Rp 2.000 per liter.

Genoil kemudian menjual biodiesel ke para nelayan seharga Rp 5.000 per liter, lebih daripada harga eceran Pertamina. Dari harga Rp 5.000 itu, Genoil masih memberikan selisih Rp 500 per kilogram untuk pengecer.

Loading...