Bidik Pasar Menengah Atas, Berapa Tarif Naik Silver Bird?

Tarif, silver bird, blue bird, naik, penumpang, kelas, menengah, atas, premium, biaya, per, kilometer, armada, vellfire, unit, periode, laba, pasar, saham, tren, PT Blue Bird Tbk, pemasukan, pendapatan, keuangan, alphard, toyota, layanan, transportasi, taksi, fasilitas, mewah,Vellfire, armada taksi Silver Bird (sumber: tribunnews.com)

Tidak selalu orang-orang memilih moda transportasi karena tarifnya yang murah atau terjangkau. Ada juga mereka yang memilih moda transportasi karena yang ditawarkan oleh para penyedia jasa pengangkutan penumpang. Meskipun keberadaan -taksi mewah ini tidak sebanyak -taksi dengan standar lainnya, keberadaan taksi mewah tidak terlepas dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Di Asia sendiri juga banyak beroperasi taksi dengan kelas satu.

Jika Anda pernah melihat sebuah taksi dengan warna hitam berlalu lalang di jalanan Ibu Kota, bisa jadi Anda sedang melihat Taksi Silver Bird Vellfire. Sebagai perusahaan taksi Indonesia yang sudah beroperasi sejak tahun 1972, terus melakukan inovasi di tahun 2010 dengan menghadirkan taksi dengan kelas untuk menjawab kebutuhan para kalangan bisnis dan keluarga.

Silver Bird Vellfire menawarkan kabin yang mewah dan luas serta dilengkapi dengan executive power seats dan ruang yang luas untuk kaki. Untuk melengkapi kenyamanan pelanggannya. Taksi ekslusif ini dilengkapi dengan GPS, e-payment dan fasilitas hiburan lainnya. Interior yang kedap suara didesain khusus untuk kenyamanan dan keheningan saat berkendara sehingga penumpang tidak akan terganggu dengan suara bising di luar.

Di belakang kemudi, para pengendara Silver Bird Vellfire memiliki kemampuan berbahasa Inggris yang baik sehingga pilihan menggunakan Silver Bird Vellfire ini pun sering digunakan oleh para turis yang ingin berpergian.

Soal tarif, taksi ekslusif Silver Bird ini dibanderol dengan Rp9.000 ketika Anda mulai naik, selanjutnya dikenai Rp5.000 per kilometer. Layanan Silver Bird ini tersedia di Plaza Senayan, Hotel Mulia, Hotel Grand Hyatt, Pacific Place, dan Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Kinerja layanan eksekutif Silver Bird dari PT Blue Bird Tbk tidak terdampak pelemahan daya beli. Maklum, pelanggan jasa transportasi premium ini membidik pasar menengah atas yang berkantong tebal.

Michael Tene, Head of Investor Relation PT Blue Bird Tbk mengklaim, armada Silver Bird masih mengalami pertumbuhan average revenue per unit per hari dari awal tahun hingga saat ini. “Jadi tidak terpengaruh dengan isu daya beli yang melemah,” terangnya kepada KONTAN. Sayang, Michael tidak merinci angka pertumbuhan pendapatan tersebut. Yang pasti, terjadi kenaikan pendapatan di lini layanan Silver Bird sebesar 5% secara quarter on quarter (qoq).

Untuk melayani pelanggan yang menginginkan kualitas premium, armada Silver Bird saat ini sudah berjumlah 1.200 unit. Terdiri dari berbagai kelas sedan premium seperti Mercedes Benz C200 CGI, C230 elg, E200 CGI, E200 K, dan Toyota Camry. Untuk kelas multi purpose vehicle (MPV), Blue Bird mengoperasikan Toyota Alphard dan Toyota Vellfire yang diluncurkan pada tahun 2009 silam.

Michael mengatakan, kualitas prima yang ditawarkan memang menyasar kelas menengah ke atas yang menginginkan layanan eksekutif. Maka dari itu, Blue Bird tidak mematok target kontribusi yang besar dari Silver Bird. Seperti yang diketahui, tarif Silver Bird Vellfire sebesar Rp 9.000 untuk tarif buka pintu dan selanjutnya dikenakan tarif Rp 5.500 per kilometer.

Sebab itu perusahaan jasa transportasi ini hanya mematok kontribusi dari Silver Bird sebesar 5% – 6% dari total revenue pada tahun ini. Menurut Michael, pemasukan dari Silver Bird sudah mencapai 5% dari total pendapatan hingga semester I-2017.

Menilik laporan keuangan per semester I-2017, pendapatan taksi dengan logo burung biru tersebut tercatat turun 15,74% dari Rp 2,471 triliun di semester I-2016 menjadi hanya Rp 2,082 triliun di semester I-2017. Emiten transportasi dengan kode BIRD di Bursa Efek Indonesia ini membukukan laba bersih sebesar Rp 193,076 miliar atau menurun 15,67% dibandingkan periode yang sama tahun 2016 sebesar Rp 228,973 miliar. Penurunan laba bersih tersebut disebabkan merosotnya pendapatan perseroan ini dalam 6 bulan pertama tahun 2017.

Laba usaha juga tercatat turun dari Rp 371,968 miliar di semester I-2016 menjadi hanya Rp 282,078 miliar di semester I-2017. Perseroan ini juga mencatat penurunan laba per saham menjadi hanya Rp 77 dari sebelumnya Rp 92 per saham. Meski kinerja keuangan belum menggembirakan, Michael tetap optimistis, pencapaian di semester dua ini bisa lebih baik ketimbang periode sebelumnya. “Kami melihat tren kenaikan di semester dua,” ungkapnya.

Loading...