Kucing Terkena Scabies? Siapkan Biaya Suntik Scabies Segini untuk Mengobatinya

Biaya Suntik ScabiesBiaya Suntik Scabies

Scabies termasuk yang paling sering menyerang seperti . Penyakit skabies tersebut disebabkan oleh parasit tungau (sarcoptes scabiei). yang terkena scabies awalnya sering menggaruk bagian , hingga kemudian muncul kerak yang mati hingga membuat bulu-bulunya rontok. Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mengobati kucing yang terkena scabies adalah dengan menjalani scabies di . suntik scabies kucing ini kabarnya berkisar antara Rp100 ribuan hingga Rp300 ribuan, tergantung di mana melakukannya.

Menurut dokter hewan dr Zulkarnain, scabies disebabkan oleh tungau. “Scabies pada hewan, terutama yang paling sering muncul kasusnya adalah pada kucing, diakibatkan oleh tungau scabiei. Tungau ini tidak dapat hidup di tubuh manusia. Sehingga, dalam beberapa hari mereka juga mati,” ungkap dr Zulkarnain, seperti dilansir Cendananews.

Tungau itu katanya akan menggali kulit dan meletakkan telur-telur mereka di dalam lubang kulit kucing atau binatang peliharaan lain. “Pada manusia, tungau ini akan mati sebelum meletakkan telurnya karena memang ekosistemnya berbeda. Nutrisi yang dibutuhkan oleh tungau tidak didapatkan di tubuh manusia,” sambung dr Zulkarnain.

Ukuran tungau itu juga sangat kecil, sehingga tidak bisa dilihat dengan mata biasa. Namun, tungau ini kabarnya dapat menular pada manusia melalui sentuhan secara langsung. “Tungau ini menular melalui sentuhan langsung. Baik kepada sesama kucing atau hewan lain dan kepada manusia. Misalnya, manusia habis menyentuh kucing yang menderita scabies, lalu tidak mencuci tangan dengan bersih,” tuturnya.

Efek scabies pada manusia pun disebut bisa parah apabila yang bersangkutan mempunyai sejarah alergi. “Walaupun tungau scabiei ini tidak bisa hidup di kulit manusia tapi efek gatalnya tetap ada. Pada orang dengan sejarah alergi maka kondisinya bisa parah. Kondisi inilah yang harus dibawa ke dokter untuk mendapatkan perawatan medis,” paparnya.

Sensasi gatal tersebut umumnya akan memicu tindakan menggaruk hingga menimbulkan luka. Luka itu pula yang berpotensi menyebabkan infeksi sekunder. “Kulit kita ini kan memang ada bakteri. Nah saat infeksi sekunder ini, bakteri ada. Inilah yang memperparah,” tutupnya.

Loading...