Biaya Produksi Ratusan Juta Rupiah, Program Televisi Indonesia Layak Tonton?

Menonton TV - blog.bkhost.vn

JAKARTA – Saat ini, pertelevisian Tanah Air tengah dalam sorotan tajam karena dinilai menghadirkan atau acara dengan konten yang minim kualitas serta tidak mendidik. Banyak stasiun yang rela menghabiskan ratusan juta hanya untuk menghasilkan siaran yang jauh dari kata layak tonton.

“Stasiun televisi banyak yang menyajikan program acara yang jauh dari kata layak,” kata Firman Kurniawan S., salah seorang pengamat komunikasi digital, seperti dilansir Indopos. “Seharusnya, posisi stasiun televisi saat ini harus menjadi pelayan terhadap kebutuhan informasi , sehingga dapat menjadi pencerah atau minimal tidak menimbulkan ketidakpastian asumsi .”

Senada, Ketua Komisi Penyiaran (KPI) Pusat, Yuliandre Darwis, menuturkan bahwa produksi konten dalam negeri masih sangat minim dan kualitasnya pun belum sesuai dengan harapan. Ketersediaan konten yang bermutu, kaya dengan hal-hal yang mendidik, serta dapat menggerakkan orang untuk berbuat positif masih sangat jarang ditemukan.

“Persoalan rating dan banjirnya konten siaran asing ikut menambah peliknya pengembangan konten siaran dalam negeri,” ujar Yuliandre, seperti dikutip . “Biaya produksi lokal mencapai Rp300 juta per episode, sedangkan jika membeli program asing hanya Rp100 juta, sehingga ini memang sangat menguntungkan industri karena mereka tidak mengeluarkan banyak biaya.”

Meski demikian, penghentian program ternyata bukan solusi yang tepat. Menurut Yuliandre, penghentian suatu tayangan mengakibatkan industri kehilangan biaya produksi yang diperoleh dari iklan. Pemasukan yang mandek itu akan mengganggu industri televisi. Dalam satu hari saja, penghentian suatu program televisi dapat menimbulkan kerugian sebesar Rp2 miliar.

“Biaya industri mereka mandek. Kehilangan Rp2 miliar dalam satu hari, yang bisa berdampak ke pemotongan gaji karyawan, kadang pengurangan artis, dan lain-lain,” tutur Yuliandre, seperti dikutip CNN. “Kalau kami berangus, habisi semua, bakal tidak ada program TV. Lama-lama, lapangan pekerjaan orang bisa tutup.”

Loading...