Biaya Produksi Membengkak, Harga Gula Bakal Melonjak?

Harga Gula Membengkak

JAKARTA – yang membengkak membuat para tebu mengusulkan kenaikan harga patokan (HPP) untuk gula menjadi Rp11.767 per kilogram. Sebelumnya, HPP gula adalah sebesar Rp9.200 per kilogram.

“Usulan HPP gula tersebut berdasarkan biaya produksi, setelah sebelumnya kami juga menerima masukan dari petani tebu,” jelas Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Nasional Andalan Petani Tebu Rakyat (APTRI), M. Nur Khabasyin. “Pasalnya, tahun ini ada kenaikan biaya pokok produksi, di antaranya biaya garap dan tebang angkut akibat kenaikan harga bahan bakar (BBM).”

Biaya produksi sendiri, sambung Nur, adalah semua biaya yang diperlukan untuk mengolah bahan baku (dalam hal ini tebu) menjadi produk jadi yang siap untuk (gula). Sementara, perhitungan produksi tebu per hektare sebanyak 1.000 kuintal dengan rendemen 7,5 persen.

“HPP untuk jenis tanaman plane cane atau tanaman tebu pertama adalah Rp12.970 per kilogram,” lanjut Nur. “Untuk tanaman kedua, ketiga, dan seterusnya, dengan produksi tebu 900 kuintal per hektare dan rendemen 7 persen, besaran HPP-nya sebesar Rp11.252 per kilogram.”

Dari angka tersebut, Nur menambahkan, setelah dilakukan penghitungan, dihasilkan HPP rata-rata Rp11.767, yang sudah termasuk keuntungan petani sebesar 10 persen. “Pada dasarnya, petani tebu tidak meminta HPP yang tinggi, tetapi angka Rp11.767 per kilogram dinilai masih cukup wajar,” jelas Nur.

“Pasalnya, pabrik gula hanya memberikan rendemen 7,5 persen akibat pabrik gula sudah berumur tua,” imbuh Nur. “Kondisinya akan berbeda ketika rendemen bisa lebih tinggi, sehingga besaran HPP bisa di bawah angka tersebut, misalnya tingkat rendemen bisa mencapai 8,5 persen maka HPP hanya sebesar Rp10.500 per kilogram.”

Loading...