Bernuansa Religius Namun Modern, Berapa Biaya Masuk Pesantren Bumi Sholawat?

Santri Pondok Pesantren Progresif Bumi Sholawat di Sidoarjo, Jawa Timur - tribunnews.com

Banyak orang tua yang mulai tergerak menyekolahkan di -sekolah islami agar sang buah hati juga ikut bertambah. Oleh sebab itu, saat ini berkembang pula sekolah-sekolah Islami yang modern, namun kental dengan nuansa religius seperti Progresif Bumi Sholawat di Sidoarjo, Jawa Timur. Sekolah Progresif Bumi Shalawat ini tiap tahunnya rutin menerima siswa baru dengan biaya masuk yang beragam, tergantung program yang diambil.

Menurut terakhir tahun 2018/2019 lalu biaya pendidikan untuk program Cambridge adalah Rp27,5 juta, sedangkan untuk program Reguler dikenai biaya masuk sebesar Rp22,2 juta, belum termasuk biaya pendaftaran sebesar Rp500 ribu. Sayangnya, pihak Pesantren Bumi Sholawat masih belum mengumumkan rincian biaya sekolah untuk tahun ajaran 2020/2021 ini. Jadwal pendaftaran untuk tahun ini pun masih belum disampaikan.

Menurut KH Agoes Ali Mashuri, pengasuh Pondok Pesantren Progresif Bumi Shalawat, ponpes tersebut dikemas modern walaupun kental . Ia menyadari adanya kekosongan dalam pendidikan Tanah Air, yakni kompetensi pendidikan dan sisi agama di Indonesia belum seimbang. “Saya ingin mengisi ruang kosong antara spiritual dan intelektual. Keduanya harus seimbang,” ungkap Gus Ali, seperti dilansir Tribunnews.

Gagasan tersebut dituangkan dalam bentuk , sistem, dan juga metode pembelajaran. Ponpes modern yang terletak di Jalan Kyai Dasuki, Lebo ini baru berdiri sekitar tahun 2010 lalu, namun menyelenggarakan jenjang pendidikan SMP dan SMA. Tak seperti sekolah pada umumnya, satu kelas di Ponpes Bumi Shalawat hanya diisi sekitar 20 . “Kelas besar membuat murid tidak nyaman dan pengajarnya tidak fokus mengenali karakter masing-masing anak didiknya,” terang Gus Ali.

Tiap tahun ajaran baru, sekolah Islami ini kabarnya hanya menerima sekitar 200 santri. Ketika seleksi awal penerimaan, Gus Ali turun tangan didampingi seorang psikolog untuk melihat langsung satu per satu calon santri. “Sejak awal saya sudah menilai, anak itu berbakat di bidang apa. Misal, kuat di matematika, bahasa, atau seni. Jadi, ada 10 hingga 12 kelas untuk satu angkatan yang karakternya berbeda tergantung minat para santri,” tandasnya.

Loading...