Biasa Dipakai untuk Pestisida, Harga Alat Semprot Solo Dibanderol Rp 280 Ribuan

Alat Semprot Solo - www.pabriksprayer.comAlat Semprot Solo - www.pabriksprayer.com

semprot atau hand sprayer untuk pestisida memang sangat beragam merk dan jenisnya, mulai dari yang buatan hingga yang buatan luar negeri. Ada beberapa semprotan pestisida yang cukup banyak digunakan di dunia , mulai dari sprayer gendong merek Swan, Tasco, hingga merek Bengawan Solo. Harga semprot tersebut juga variatif, tergantung merek dan ukurannya.

Alat semprot gendong (knapsack sprayer) Bengawan Solo menjadi alat yang cukup di dunia pertanian dan perkebunan lantaran brand satu ini dikenal cukup andal dan memiliki yang bagus. Hand sprayer Bengawan Solo mempunyai kapasitas 15 liter dan kerap digunakan untuk pengendalian gulma di perkebunan besar dan kebun-kebun kecil, hingga lapangan golf. Alat semprot ini terbuat dari plastik HDPE yang membuatnya ringan dibawa-bawa dan relatif tahan lama.

Alat semprot Solo memiliki tekanan semprot sekitar 2-6 kg per cm2, dengan panjang tangki 350 mm, lebar 200 mm, dan tinggi tangki 525 mm. Berat kosong sprayer ini adalah sekitar 4 kg, sedangkan saat terisi penuh beratnya bisa mencapai 16,5 kg.

Knapsack Bengawan Solo juga disebut-sebut telah dinyatakan lolos uji oleh Departemen Pertanian RI tahun 2001 silam dengan nomor 34/S-37.LS Pro Alsintan BPMA/VIII/2001. Di samping itu alat semprot Bengawan Solo juga dikabarkan lolos sertifikasi Sistem Manajemen Mutu ISO 90001 tahun 2008, Sistem Manajemen Lingkungan ISO 14001 tahun 2004, dan telah memenuhi Standar Nasional Indonesia SNI 4513 tahun 2008.

Alat semprot B Solo 425 pun dengan harga yang cukup terjangkau, berkisar mulai dari Rp 280 ribuan di pasaran. Biasanya alat ini di toko-toko alat pertanian, atau ada pula yang menjualnya secara di situs-situs jual beli .

Selain menggunakan pestisida, rupanya pengendalian hama juga bisa dilakukan dengan memelihara musuh alami hama itu sendiri. “Melestarikan musuh alami hama tak hanya untuk menekan populasi perusak tanaman itu, tapi juga untuk mengurangi pemakaian pestisida,” kata Prof. Aunu Rauf, guru besar di Departemen Tanaman Institut Pertanian Bogor.

Loading...