BI Tidak Ingin Rupiah Terlalu Kuat, Kurs Terdepresiasi 23 Poin di Akhir Pekan

Setelah perkasa dalam beberapa hari terakhir, akhirnya harus terjerembab pada penutupan akhir pekan (15/7) ini. Menurut data Index, mata uang Garuda menutup akhir pekan di posisi Rp13.096 per AS, melemah 23 poin atau 0,18% dibanding penutupan sebelumnya di level Rp13.073 per dolar AS.

Sebenarnya, rupiah mengawali perdagangan hari ini dengan penguatan sebesar 7 poin atau 0,05% di level Rp13.066 per dolar AS. Namun, mata uang Garuda berbalik terdepresiasi tipis 10 poin atau 0,08% ke posisi Rp13.083 per dolar AS pada akhir perdagangan sesi pertama. Kemudian, rupiah makin tertekan dengan melemah 18 poin atau 0,14% ke Rp13.091 per dolar AS pada pukul 14.40 WIB.

Menurut Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, Rangga Cipta, penguatan rupiah memang cenderung terbatas pada beberapa hari terakhir. Keengganan melihat rupiah menguat terlalu cepat membuat laju mata uang Garuda menjadi tak leluasa dalam jangka pendek. “Sebenarnya, pelemahan dolar AS dan penguatan minyak bisa memberikan sentimen positif terhadap rupiah,” kata Rangga.

Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia, Agus Martowardojo, menyatakan pihaknya memang tidak ingin melihat rupiah terlalu kuat karena bisa mengganggu keseimbangan fundamental. “Kami tidak ingin rupiah menjadi terlalu kuat. Kita jaga di fundamentalnya,” kata Agus.

Senada, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa , Sasmito Hadi Wibowo, menyampaikan bahwa penguatan tajam rupiah terhadap dolar AS dan juga malah bisa menyulitkan Indonesia untuk bersaing di luar negeri karena harga menjadi lebih mahal. “Masalahnya, produk ekspor kita bisa menjadi lebih mahal karena penguatan rupiah yang terlalu tajam,” katanya.

“Penguatan rupiah disenangi importir karena harga menjadi lebih murah,” sambung Sasmito. “Kalau penguatan rupiah kecil sih, tidak masalah.”

Loading...