BI Tahan Suku Bunga, Rupiah Berakhir Naik Tipis

Rupiah - rebanas.comRupiah - rebanas.com

JAKARTA – Setelah bergerak fluktuatif, akhirnya menutup Kamis (17/9) sore di area hijau setelah Rapat Dewan Gubernur memutuskan untuk menahan acuan di level 4%. Menurut laporan Bloomberg Index pada pukul 14.59, Garuda berakhir menguat 10,5 poin atau 0,07% ke level Rp14.832,5 per AS.

Sementara itu, berdasarkan data yang dirilis Bank Indonesia jam 10.00 WIB tadi, referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) ditetapkan berada di posisi Rp14.878 per dolar AS, terdepresiasi 34 poin atau 0,22% dari transaksi sebelumnya di level Rp14.844 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mata uang Asia bergerak variatif, dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,31% dialami dolar Taiwan dan pelemahan terdalam sebesar 0,3% menghampiri ringgit Malaysia.

Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) yang baru saja berakhir memutuskan untuk menahan suku bunga acuan (BI 7 days reverse repo rate) berada di level 4%. Demikian juga deposit facility yang tetap di posisi 3,25% dan lending facility di posisi 4,75%. Keputusan tersebut diklaim telah mempertimbangkan rupiah serta untuk mendukung ekonomi nasional.

“Keputusan ini mempertimbangkan perlunya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah inflasi yang tetap rendah,” jelas Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo. “Keputusan ini juga untuk mendorong perekonomian dari dampak pandemi COVID-19. BI tekankan jalur kuantitas melalui penyediaan likuiditas, termasuk dukungan BI ke pemerintah untuk percepat realisasi APBN 2020.”

Dari global, indeks dolar AS naik tipis terhadap mata uang utama pada hari Kamis, setelah penilaian optimis Federal Reserve tentang pemulihan ekonomi dan karena meningkatnya toleransi untuk inflasi yang lebih tinggi mendorong kenaikan imbal hasil obligasi. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,059 poin atau 0,06% ke level 93,273 pada pukul 14.33 WIB.

Dilansir dari Reuters, pada pertemuan kebijakannya yang berakhir tadi pagi WIB, The Fed berjanji untuk mempertahankan suku bunga mendekati nol sampai pasar tenaga kerja mencapai ‘lapangan kerja maksimum’ dan inflasi berada di jalur untuk ‘melebihi’ target 2%. The Fed juga mengharapkan pertumbuhan ekonomi membaik dari penurunan akibat yang mereka proyeksikan pada bulan Juni.

“Dolar AS bergeser sedikit, tetapi pasar secara keseluruhan tidak menunjukkan reaksi yang besar,” kata ahli strategi senior di Barclays, Shinichiro Kadota. “Selain pemilihan , saya pikir fokusnya akan pada dukungan fiskal AS, yang menurut (Ketua Fed) Jerome Powell juga sangat penting. Kongres masih berjuang dengan pembicaraan stimulus, dan pasar sedang menanti apakah itu akan diselesaikan.”

Loading...