BI Kembali Tahan Suku Bunga, Rupiah Berakhir Merah

Rupiah - www.komoditas.co.idRupiah - www.komoditas.co.id

JAKARTA – harus terbenam di teritori negatif pada Selasa (13/10) sore ketika Rapat Dewan Gubernur memutuskan untuk menahan acuan di level 4%, langkah yang telah dilakukan selama empat bulan beruntun. Menurut catatan Bloomberg Index pada pukul 14.59 WIB, Garuda berakhir melemah 25 poin atau 0,17% ke level Rp14.725 per AS.

Sementara itu, data yang diterbitkan Bank Indonesia jam 10.00 WIB tadi menetapkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.793 per dolar AS, terdepresiasi 47 poin atau 0,31% dari sebelumnya di level Rp14.746 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia tidak berkutik melawan greenback, dengan pelemahan terdalam sebesar 0,21% dialami won Korea Selatan.

Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung selama dua hari, Bank Indonesia, seperti diprediksi sebelumnya, akhirnya memutuskan untuk tetap mempertahankan suku bunga BI 7-Day Reverse Repo Rate di level 4%. Bank sentral memandang suku bunga tersebut masih inline dalam mendorong pemulihan ekonomi dari dampak pandemi virus corona.

“Keputusan ini mempertimbangkan perlunya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah yang diperkirakan tetap rendah,” papar Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, dilansir CNBC Indonesia. “Perbaikan ekonomi berlanjut sesuai perkiraan sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi dunia terus membaik dipengaruhi stimulus fiskal negara maju antara lain AS.”

Dari global, indeks dolar AS mencoba bangkit pada hari Selasa ketika investor terjebak pada harapan bahwa akan ada stimulus fiskal AS yang besar setelah pemilu 3 November untuk menopang ekonomi yang dilanda pandemi virus corona. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,174 poin atau 0,19% ke level 93,239 pada pukul 14.28 WIB.

“Nampaknya ada optimisme yang kuat (di pasar) bahwa pada akhirnya akan ada stimulus (bantuan),” kata kepala strategi mata uang dan obligasi asing di SMBC Nikko Securities, Makoto Noji, seperti disalin dari Reuters. “Sulit untuk membantah ekspansi fiskal mengingat epidemi virus corona hampir seperti bencana alam.”

Sementara pasar semakin skeptis tentang kemungkinan memiliki paket bipartisan sebelum pemilu, keunggulan yang melebar kandidat presiden dari Partai Demokrat, Joe Biden, atas calon incumbent, Donald Trump, membuat investor mengharapkan stimulus besar setelah pemilu. Kemenangan Biden juga dipandang negatif bagi greenback sebagian karena janjinya untuk menaikkan pajak akan mengurangi keuntungan dari investasi di AS.

Loading...