BI Tahan Suku Bunga, Rupiah Tetap Berakhir Melemah

Mata uang rupiah - www.medcom.idMata uang rupiah - www.medcom.id

Rupiah harus menerima nasib tenggelam di area merah pada Kamis (17/6) sore ketika keputusan super hawkish memupus katalis dari dalam negeri saat memutuskan untuk menahan suku bunga acuan. Menurut paparan Bloomberg Index pada pukul 14.58 WIB, mata uang Garuda berakhir melemah tajam 117,5 poin atau 0,83% ke level Rp14.355 per dolar AS.

Sejumlah mata uang Benua juga terpantau tidak berdaya melawan . Won Korea Selatan memimpin pelemahan setelah anjlok 1,02%, diikuti peso Filipina yang terdepresiasi 0,57%, yuan China yang melemah 0,4%, dan ringgit Malaysia yang terkoreksi 0,38%. Sebaliknya, dolar Singapura mampu menguat 0,13%, sedangkan dolar Hong Kong bergerak stagnan.

Dalam rapat yang berakhir siang tadi, Bank Indonesia memutuskan untuk menahan suku bunga acuan atau BI 7-Day Reverse Repo Rate di level 3,50%, suku bunga Deposit Facility sebesar 2,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 4,25%. Keputusan ini konsisten dengan perkiraan inflasi yang tetap rendah dan stabilitas rupiah yang terjaga, serta upaya untuk memperkuat pemulihan ekonomi.

“Rupiah kemungkinan melemah terhadap dolar AS pada hari ini karena sentimen ekspektasi terhadap perubahan kebijakan moneter Federal Reserve,” tutur analis uang, Ariston Tjendra, pagi tadi, seperti dilansir dari CNN Indonesia. “Bank sentral AS mempercepat proyeksi kenaikan tingkat suku bunga acuan, yang berpotensi naik 50 basis poin pada tahun 2023.”

Dari pasar , dolar AS naik ke level tertinggi dalam hampir dua bulan terhadap mata uang utama pada hari Kamis setelah Federal Reserve mengajukan proyeksi untuk kenaikan suku bunga pasca-pandemi pertama ke tahun 2023, mengutip situasi yang membaik. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,263 poin atau 0,29% ke level 91,392 pada pukul 11.16 WIB.

“Poros super hawkish The Fed akan memperkuat posisi terendah dan menawarkan dukungan lebih lanjut untuk dolar AS dalam jangka pendek lebih lanjut,” tulis analis TD Securities dalam sebuah catatan, dilansir dari Reuters. “Gangguan ganda dari suku bunga yang lebih tinggi dan sentimen risiko yang goyah mungkin menghasilkan reli dolar AS hingga 2% selama bulan-bulan musim panas.”

Loading...