BI Tahan Suku Bunga, Rupiah Berbalik Menguat 14 Poin di Awal Perdagangan

Jakarta mengawali pagi hari ini, Jumat (17/11) dengan penguatan sebesar 14 poin atau 0,1 persen ke posisi Rp 13.525 per dolar AS. Kemarin, Kamis (16/11) berakhir terdepresiasi 0,03 persen atau 4 poin menjadi Rp 13.539 per USD usai diperdagangkan pada rentang angka Rp 13.530 hingga Rp 13.552 per dolar AS.

The Greenback diperdagangkan bervariasi terhadap sejumlah utama. Pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, indeks dolar AS dilaporkan naik 0,15 persen menjadi 93,951. Hal ini terjadi lantaran para pelaku pasar masih mencerna data terbaru.

Dari sektor ekonomi, Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat melaporkan klaim awal untuk tunjangan pengangguran naik 10.000 ke penyesuaian musiman 249.000 untuk pekan yang berakhir (11/11). Angka ini sekaligus mencatat kenaikan mingguan kedua berturut-turut dan lebih tinggi dari perkiraan pasar.

Pada Kamis (16/11) Federal Reserve mengumumkan bahwa AS naik 0,9 persen pada Oktober 2017 melebihi konsensus pasar lantaran aktivitas pabrik mulai pulih setelah dilanda Badai Harvey dan Irma. Kemudian indeks Dow Jones Industrial Average naik 187,08 poin atau 0,80 persen menjadi 23.458,36. Kemudian S&P 500 juga meningkat 21,02 poin atau 0,82 persen ke 2.585,64. Indeks Nasdaq Composite naik 87,08 poin atau 1,30 persen menjadi 6.793,29.

Sementara itu, dari dalam negeri Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan BI 7-day Reverse Repo Rate di angka 4,25 persen, dengan Deposit Facility tetap 3,50 persen dan Lending Facility tetap 5 persen. “Keputusan tersebut berlaku efektif sejak 17 November 2017,” ujar Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo di Kantor Pusat Bank Indonesia, Jakarta, Kamis (16/11), seperti dilansir Liputan 6.

Menurut Agus, keputusan ini konsisten dengan upaya menjaga stabilitas makroekonomi dan stabilitas sistem keuangan, serta mendorong laju pemulihan ekonomi dengan tetap mempertimbangkan dinamika perekonomian global serta domestik. Tingkat suku bunga acuan saat ini juga dianggap memadai untuk menjaga laju inflasi serta sesuai sasaran dan defisit transaksi berjalan pada level yang .

“Nilai tukar rupiah melemah pada Oktober 2017 karena dipengaruhi oleh faktor dari luar dan bukan karena alasan fundamental ekonomi. Rata-rata harian selama Oktober melemah 1,63 persen menjadi 13.528 per dolar AS,” tandasnya.

Loading...