BI Tahan Suku Bunga, Pelemahan Rupiah Dianggap Hanya Koreksi Teknikal

Kurs Rupiah - www.viva.co.idKurs Rupiah - www.viva.co.id

Jakarta memulai pagi hari ini, Jumat (21/12) dengan pelemahan sebesar 30 poin ke posisi Rp 14.503 per dolar AS. Sebelumnya, Kamis (20/12), mata uang Garuda berakhir terdepresiasi sebesar 34 poin atau 0,23 persen ke level Rp 14.473 per .

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the Greenback terhadap sejumlah mata uang utama terpantau menurun. Pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, kurs dolar AS turun akibat naiknya dan jalur pengetatan moneter yang lebih lambat tahun 2019 depan, sehingga meningkatkan kekhawatiran terkait isu perlambatan .

Seperti dilaporkan Xinhua, sentimen investor saat ini masih rendah lantaran para analis berpendapat bahwa lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan, terutama sehubungan dengan prospek ekonomi . Pada Rabu, Komite Terbuka Federal menegaskan akan terus memantau perkembangan ekonomi dan keuangan serta menilai implikasinya terhadap prospek ekonomi.

Likuiditas dolar AS yang melemah telah menurunkan permintaan safe haven lantaran arus repatriasi dolar AS dilaporkan turun jadi sekitar 93 miliar dolar AS pada kuartal ketiga. Level ini anjlok cukup dalam dari perolehan pada kuartal pertama yang hampir mencapai 300 miliar dolar AS. Alhasil beberapa pelaku pasar beralih ke mata uang safe haven lain seperti Swiss franc yang tengah menguat terhadap USD.

Dari dalam negeri, keputusan Bank Indonesia (BI) untuk menahan suku bunga acuan BI-7 Day Repo Rate (BI-7DRR) tetap di level 6 persen telah menahan pelemahan rupiah terhadap USD agar tidak terlalu dalam. Menurut Ekonomi Bank Central Asia (BCA) David Sumual, keputusan BI sudah sesuai dengan perkiraan pasar, oleh sebab itu pelemahan rupiah saat ini lebih cenderung akibat koreksi teknikal.

Terlebih sepanjang pekan ini rupiah sudah mengalami penguatan yang cukup signifikan. “Pergerakan rupiah kali ini sudah sesuai dengan mata uang emerging market lainnya,” ujar David, seperti dilansir Kontan.

Ekonom Indef Eko Listiyanto menambahkan, keputusan BI ini cukup logis, mengingat kenaikan suku bunga sejauh ini sudah cukup. “Kita diuntungkan dengan situasi yang membaik dilihat dari indeks dollar yang sedang turun, kalah dengan euro yang menguat,” bebernya.

Loading...