BI Tahan Suku Bunga, Rupiah Berakhir Menguat

Rupiah - republika.co.idRupiah - republika.co.id

JAKARTA – mampu mempertahankan posisi di zona hijau pada perdagangan Kamis (22/7) sore ketika Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang berakhir siang tadi memutuskan untuk menahan acuan. Menurut Bloomberg Index pada pukul 14.59 WIB, mata uang Garuda berakhir menguat 60 poin atau 0,41% ke level Rp14.482,5 per AS.

Sementara itu, mata uang Benua Kuning terpantau bergerak terhadap greenback. Rupee India memimpin penguatan setelah melonjak 0,35%, disusul peso Filipina yang naik 0,16%, serta won Korea Selatan dan dolar Taiwan yang sama-sama menguat 0,15%. Sebaliknya, dolar Singapura harus melemah 0,07%, diikuti bath Thailand yang terdepresiasi 0,05%.

Dalam rapat yang berlangsung dua hari, Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 3,50%, suku bunga Deposit Facility sebesar 2,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 4,25%. Keputusan ini sejalan dengan perlunya menjaga stabilitas nilai tukar dan sistem keuangan dari ketidakpastian keuangan , di tengah perkiraan inflasi yang rendah dan upaya mendukung .

Sebelumnya, sejumlah ekonom telah memperkirakan Bank Indonesia masih mempertahankan suku bunga acuan di level 3,5%. Morgan Stanley misalnya, menduga bank sentral tetap mempertahankan sikap yang akomodatif, dengan menahan suku bunga pada level terendah saat ini. Kendati demikian, Morgan Stanley tidak mengantisipasi penurunan suku bunga lebih lanjut dari Bank Indonesia.

Dari pasar global, indeks dolar AS dan aset safe haven seperti yen Jepang masih harus bergerak lebih rendah pada hari Kamis, di tengah pemulihan selera investor terhadap aset berisiko karena pendapatan yang kuat mengangkat saham Wall Street. Mata uang Paman Sam terpantau cuma menguat tipis 0,006 poin atau 0,01% ke level 92,760 pada pukul 11.12 WIB.

“Penghasilan yang kuat telah menghapus kekhawatiran Covid-19 varian delta di AS, yang membebani mata uang safe haven,” ujar analis National Bank, Tapas Strickland, seperti dikutip dari Reuters. “Konsensusnya adalah (strain delta) tidak menimbulkan risiko langsung terhadap pemulihan, menunda pembukaan kembali paling lama tiga bulan karena negara-negara meningkatkan upaya vaksinasi sebagai tanggapan.”

Saat ini, investor mengawasi secara ketat pertemuan Bank Sentral Eropa (ECB) yang akan berakhir pada Jumat (23/7) dini hari WIB. Pembuat kebijakan akan menerapkan perubahan strategi mereka untuk pertama kalinya dan semuanya menjanjikan periode stimulus yang lebih lama lagi untuk memenuhi komitmen guna meningkatkan inflasi. Analis umumnya melihat sikap dovish ECB akan melemahkan euro dalam jangka menengah.

Loading...