BI Rate Berpeluang Turun jika Rupiah sudah Stabil

Darmin-Nasution Menko PerekonomianKondisi inflasi tahunan yang relatif lebih rendah pada 9 bulan pertama tahun ini memungkinkan adanya pelonggaran kebijakan moneter, hal inilah yang disampaikan oleh Menko .

Dalam pandangannya, hal yang menjadi alasan otoritas moneter Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan di angka 7,5% tak lain adalah karena nilai tukar yang belum stabil sepenuhnya terhadap Dollar AS. “Inflasi tahun ini nampak akan rendah, tapi mungkin BI melihat bagaimana kursnya sudah stabil belum? Kalau kurs stabil mungkin arahnya turun,” ujarnya.

Sebelumnya, nilai tukar Rupiah pada hari Jumat lalu (23/10) ditutup menguat sebesar 19 poin (setara 0,14%) ke level Rp 13.621 per Amerika Serikat. Rupiah bahkan telah meraup apresiasi tajam pada pembukaan perdagangan pagi dengan melambung 157 poin atau 1,15% ke level Rp 13.483 per AS.

Laju inflasi yang lebih rendah, menurut Darwin, menandakan bahwa masyarakat dengan pendapatan tetap akan lebih tinggi lantaran harga barang lebih terjangkau. Hal inilah yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi di kuartal III tahun ini.

Meskipun demikian, tantangan besar dirasa datang dari ekonomi Tiongkok yang mengalami perlambatan lebih dalam. Bahkan, People Bank of baru memangkas 75 basis poin suku bunga dalam rangka mendorong pertumbuhan dan mengendalikan laju inflasi.

“Kalau Indonesia mau tetap kompetitif, ya harga (barang ekspor) harus ditekan sedikit, tapi dalam beberapa bulan terakhir sudah terjadi perubahan tujuan ekspor ya, Filipina, Malaysia dan Timur Tengah itu perdagangan kita dengan mereka semakin besar,” tutur Darmin.

Loading...