BI Pertahankan Suku Bunga Acuan, Rupiah Rebound di Awal Perdagangan

Rupiah - market.bisnis.comRupiah - market.bisnis.com

Jakarta rupiah mengawali pagi hari ini, Jumat (18/1) dengan penguatan sebesar 26 poin ke level Rp 14.165,5 per AS, berdasarkan dari Index. Sebelumnya, Kamis (17/1), kurs mata uang Garuda berakhir terdepresiasi 64 poin atau 0,45 persen ke posisi Rp 14.192 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sejumlah mata uang utama terpantau menguat tipis. Pada akhir perdagangan Kamis waktu setempat atau Jumat pagi WIB, indeks dolar AS naik 0,01 persen menjadi 96,0658 usai rilis data ekonomi Amerika Serikat yang menunjukkan angka positif.

Dilansir Xinhua melalui iNews, menurut laporan dari Departemen Amerika Serikat, pada pekan yang berakhir 12 Januari 2019, angka pendahuluan untuk klaim awal pengangguran di AS mencapai 213.000, turun 3.000 dari tingkat yang tak direvisi pada pekan sebelumnya. Angka tersebut rupanya lebih rendah dari perkiraan . Sedangkan rata-rata dalam pergerakan empat minggu yang lebih stabil adalah 220.750, turun 1.000 dari rata-rata yang tak direvisi pada minggu sebelumnya di angka 221.750.

Pada perdagangan sebelumnya rupiah memang terpantau melemah. Namun menurut kepala ekonom Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih, pelemahan mata uang bukan hanya dialami oleh rupiah, namun juga sebagian besar mata uang di kawasan Asia. “Mata uang won, ringgit, peso, phat, juga dollar Singapura melemah hari,” ujar Lana, seperti dilansir Kontan.

Lana menambahkan, sentimen eksternal berperan cukup besar dalam pelemahan rupiah dalam perdagangan kemarin. Akan tetapi, pada hari ini Lana memprediksi rupiah akan memiliki kecenderungan untuk bergerak menguat meskipun tak terlalu signifikan. “Menguatnya pun tidak terlalu besar,” jelas Lana.

Di sisi lain, analis Monex Investindo Futures Faisyal menuturkan jika rupiah hari ini masih akan dipengaruhi oleh sentimen eksternal, sehingga rupiah masih berpotensi untuk melemah lagi pada Jumat (18/1). “Pasar sangat dipengaruhi oleh kekhawatiran perlambatan ekonomi global dan ketidakpastian di Amerika Serikat dan Inggris,” beber Faisyal.

Keputusan Bank Indonesia (BI) menahan suku bunga acuan di level 6 persen pun turut memberi tekanan pada rupiah sebagai mata uang berisiko. Oleh sebab itu Faisyal memperkirakan hari ini rupiah bakal melanjutkan pelemahannya. “Pelemahan berpotensi berlanjut, karena ketidakpastian politik di Inggris membawa kekhawatiran pada pasar,” ujarnya.

Loading...