BI Naikkan Suku Bunga, Rupiah Melesat 42 Poin ke Level Rp 14.623/USD

Rupiah - viva.co.idRupiah - viva.co.id

Jakarta Garuda dibuka menguat 42 poin atau 0,29 persen ke posisi Rp 14.623 per dolar AS di awal pagi hari ini, Jumat (16/11). Sebelumnya, Kamis (15/11), rupiah berakhir terapresiasi 122 poin atau 0,82 persen menjadi Rp 14.665 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sejumlah mata uang utama terpantau menguat. Pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, indeks dolar AS naik 0,13 persen menjadi 96,9293 lantaran kesepakatan rancangan perjanjian kini tengah menghadapi ketidakpastian baru di tengah krisis yang melanda Inggris.

Pound sterling anjlok dalam perdagangan Kamis usai menteri Inggris memutuskan untuk mengundurkan diri sebagai bentuk protesnya terhadap rancangan perjanjian Brexit. Hal ini sekaligus menyulut kembali ketakutan dan kekhawatiran akan keluarnya Inggris dari Uni Eropa yang kacau dalam sisa waktu 4,5 bulan. Hal ini pula yang memicu beralih ke mata uang safe haven seperti dolar AS dan yen.

Pada Kamis (15/11), Perdana Menteri Inggris Theresa May menuturkan bahwa ia memenangkan banyak dukungan dari menteri-menteri senior untuk membuat perjanjian Brexit, namun banyak pihak di pemerintahannya yang tidak yakin dan mendorong menteri Brexit Inggris Dominic Raab dan menteri lain untuk mundur.

“Ketidakpastian politik yang meningkat di Inggris menjaga pound dalam gejolak yang dalam. Sterling mempesona, bergantian antara keuntungan dan kerugian, setelah menteri Brexit Inggris mengundurkan diri,” ujar analis Western Union Business Solutions, seperti dilansir Reuters.

Di sisi lain, dalam perdagangan kemarin gerak rupiah berhasil melesat jauh ke zona hijau usai (BI) menaikkan suku bunga BI7DRRR sebesar 25 basis poin menjadi 6 persen. “Tidak banyak yang memprediksikan BI akan menaikkan suku bunga, itu yang menyebabkan rupiah menguat cukup signifikan terhadap dollar AS,” ujar Research and Analyst PT Monex Investindo Futures Putu Agus Pransuamitra, seperti dilansir Kontan.

Putu berpendapat, BI menaikkan suku bunga untuk mempertahankan posisi defisit berjalan (current account deficit) sepanjang tahun ini supaya tetap ada di bawah 3 persen dari Domestik Bruto (PDB) walaupun menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) kemarin neraca perdagangan RI mengalami defisit yang cukup dalam, yakni USD 1,82 miliar.

Loading...