Betah di Zona Merah, Rupiah Dibuka Melemah 22 Poin

Rupiah membuka transaksi dengan melemah 22 poin atau 0,15% ke level Rp14.603 per dolar AS - beritajatim.com

JAKARTA – masih belum beranjak dari zona merah pada awal pekan (17/12) ini, menjelang pertemuan Federal Reserve di tengah minggu. Menurut catatan Bloomberg Index, mata uang Garuda membuka dengan melemah 22 poin atau 0,15% ke level Rp14.603 per AS. Sebelumnya, spot sudah ditutup turun 84 poin atau 0,58% di posisi Rp14.581 per AS pada akhir pekan (14/12) kemarin.

Di sisi lain, indeks dolar AS mencoba bertahan di zona hijau pada Senin pagi, dengan menguat tipis 0,003 poin menuju level 97,446 pada pukul 08.04 WIB. Sebelumnya, mata uang Paman Sam sempat dibuka dengan terdepresiasi 0,013 poin atau 0,01% di posisi 97,430, melorot dari perdagangan sebelumnya yang berakhir menguat 0,379 poin atau 0,39%.

“Rupiah pada perdagangan awal pekan ini masih akan melemah karena beberapa faktor, salah satunya momentum kenaikan oleh ,” tutur ekonom Maybank, Myrdal Gunarto, dikutip Kontan. “Faktor kedua adalah permintaan dolar AS yang lebih tinggi, terutama di dalam negeri untuk pembayaran dividen , bunga utang, impor bahan bakar minyak, atau liburan akhir tahun.”

Hampir senada, analis Monex Investindo, Putu Agus Pransuamitra, mengatakan bahwa pelemahan rupiah masih akan terjadi karena kondisi global yang tidak menentu. Dolar AS kembali menguat akibat nilai tukar euro yang anjlok, disebabkan tekanan ekonomi Prancis dan Jerman yang berada di bawah ekspektasi.

Sepanjang tahun 2018 ini, rupiah bisa dikatakan kurang hoki. Pasalnya, mata uang Garuda telah melemah sekitar 7,57% di sepanjang tahun ini (year-to-date) terhadap dolar AS hingga akhir perdagangan Jumat kemarin. Pada periode yang sama tahun 2017, nilai tukar rupiah tercatat ‘hanya’ terdepresiasi 0,76% terhadap greenback.

“Pelemahan mata uang rupiah hampir sepanjang 2018 salah satunya disebabkan defisit transaksi berjalan yang membengkak,” ujar staf ahli Menteri Koordinator Bidang Perekonomian dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Lin Che Wei. “Padahal, rupiah mampu mengawali tahun 2018 di pijakan yang kuat.”

Loading...