Betah di Zona Hijau, Rupiah Dibuka Menguat 51 Poin di Awal Dagang

Rupiah - berkahtuhan.comRupiah - berkahtuhan.com

Jakarta – Mata uang Garuda mengawali pagi hari ini, Jumat (30/11), dengan penguatan sebesar 51 poin atau 0,35 persen ke posisi Rp 14.331,5 per AS. Kemarin, Kamis (29/11), kurs berakhir terapresiasi 146,5 poin atau 1,01 persen menjadi Rp 14.382,5 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS di akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB terpantau berbalik menguat atau rebound terhadap sejumlah mata uang utama. Indeks dolar AS rebound lantaran kemungkinan akan menaikkan lagi pada bulan Desember 2018 ini, sesuai dengan perkiraan .

“Hampir semua peserta menyatakan pandangan bahwa peningkatan lain dalam kisaran target untuk suku bunga federal fund (FFR) kemungkinan akan dibenarkan segera, jika informasi yang masuk pada pasar dan sejalan dengan atau lebih kuat dari ekspektasi mereka saat ini,” demikian bunyi risalah pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) 7-8 November, yang dirilis pada Kamis (29/11), seperti dilansir Antara.

The Fed pun menekankan jika pihaknya mempertimbangkan mengubah istilah ‘peningkatan bertahap lebih lanjut’ dalam kisaran target untuk suku bunga federal fund, dalam upaya menambah fleksibilitas lebih banyak bagi para komite pembuat kebijakan.

“Banyak peserta menunjukkan bahwa hal itu mungkin tepat pada beberapa pertemuan mendatang untuk memulai transisi ke bahasa pernyataan yang menempatkan penekanan lebih besar pada evaluasi yang masuk dalam menilai prospek dan kebijakan. Perubahan semacam itu akan membantu menyampaikan pendekatan fleksibel komite,” kata risalah.

Menurut Analis Monex Investindo Futures Ahmad Yudiawan, dolar AS terimbas pidato Gubernur The Fed Jerome Powell. “Powell memberi sinyal bunga The Fed akan melambat sehingga memberi tekanan pada dollar AS,” ungkap Ahmad, seperti dilansir Kontan.

Meski demikian, nilai tukar mata uang Garuda diprediksi masih bisa menurun. Pasalnya, menurut Ekonom Bank Permata Josua Pardede, dari dalam negeri pembatalan lelang surat utang negara (SUN) dan SBSN telah memunculkan ekspektasi bahwa harga obligasi pemerintah cenderung naik. Hal itu pula yang berpotensi membuat rupiah akan terkoreksi.

Loading...