Bertahan di Zona Hijau, Rupiah Ditutup Menguat 0,11%

Rupiah - bisnis.tempo.coRupiah - bisnis.tempo.co

JAKARTA – mampu mempertahankan posisi di teritori hijau pada perdagangan Kamis (27/12) sore, ketika indeks AS berbalik melemah meski imbal hasil Treasury dan AS merangkak naik. Menurut paparan Index pada pukul 15.59 WIB, mata uang Garuda berakhir menguat 16 poin atau 0,11% ke level Rp14.561 per dolar AS.

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.563 per dolar AS, menguat 39 poin atau 0,26% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.602 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mata uang variatif terhadap greenback, dengan pelemahan terdalam sebesar 0,23% dialami rupee India, sedangkan kenaikan tertinggi sebesar 0,51% menghampiri peso Filipina.

Dari , indeks dolar AS berbalik melemah pada hari Kamis, ketika menyambut tanda-tanda meredanya ketegangan perdagangan AS dan China serta ekonomi AS yang lebih solid, sekaligus membuat saham Wall Street dan imbal hasil Treasury melonjak. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,115 poin atau 0,16% ke level 96,8950 pada pukul 13.11 WIB.

Seperti diberitakan Reuters, indeks Dow Jones Industrial Average meroket lebih dari 1.000 poin untuk pertama kalinya pada hari Rabu (26/12), sementara hasil imbal hasil 10-tahun AS naik sekitar 8 basis poin menjadi berakhir pada 2,8%. Hal tersebut sempat memberikan dukungan terhadap dolar AS setelah tertekan berminggu-minggu akibat kekhawatiran pertumbuhan ekonomi, ketegangan AS-China, serta penutupan sebagian pemerintah AS.

Delegasi pemerintah AS dikabarkan akan melakukan perjalanan ke Beijing pada Minggu (7/1) mendatang untuk mengadakan pembicaraan perdagangan dengan para pejabat China. Kabar baik juga datang dari laporan penjualan liburan di AS pada tahun 2018 yang naik 5,1% dari tahun lalu, menjadi lebih dari 850 miliar dolar AS, kenaikan tertinggi dalam enam tahun.

“Investor akan kembali ke pasar AS setelah diselimuti banyak kekhawatiran. Ini akan mendukung dolar AS serta imbal hasil Treasury dan saham,” ujar kepala perdagangan Asia di OANDA, Stephen Innes. “Risiko perang dagang AS-China sedikit berkurang, sehingga sentimen berisiko juga harus mendukung mata uang pasar .”

Loading...