Bertahan dari Tekanan Dolar, Rupiah Naik Tipis di Akhir November

Rupiah ternyata mampu bertahan di tengah gencarnya tekanan indeks dolar AS usai Paman Sam diumumkan membaik. Menurut laporan Index pukul 15.59 WIB, Garuda berhasil menutup akhir November ini dengan penguatan tipis 5 poin atau 0,04% ke level Rp13.555 per dolar AS.

Rupiah mengawali sesi dagang hari ini dengan 42 poin atau 0,31% ke posisi Rp13.518 per dolar AS. Istirahat siang, mata uang Garuda kembali tipis 2 poin atau 0,01% ke Rp13/558 per dolar AS. Jelang penutupan atau pukul 15.46 WIB, spot masih bertahan di zona hijau usai 1 poin atau 0,01% ke Rp13.559 per dolar AS.

Sebelumnya, Ekonom Bank Central Asia, David Sumual, menyampaikan kekhawatiran membaiknya data AS dapat memberikan tekanan pada rupiah dan mata uang emerging market lainnya. Seperti diketahui, kemarin (29/11) Biro Analisis Ekonomi AS mengumumkan produk bruto (PDB) pendahuluan di kuartal ketiga mencapai 3,2%, lebih tinggi dari konsensus yang memprediksi di angka 3%.

Setelah pengumuman data PDB AS kuartal tiga, indeks dolar AS memang mampu naik tipis 0,040 poin atau 0,04% ke level 100,970. Tren penguatan the berlanjut hingga siang hari dengan naik 0,25% ke posisi 101,18. Sebelumnya, mata uang Paman Sam ini ditutup melemah 0,35 poin atau 0,35% ke 100,98. “Semua sentimen (terhadap rupiah) masih dari eksternal,” kata David.

Sementara itu, Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, Rangga Cipta, mengatakan rupiah berpeluang tertekan seiring permintaan dolar AS di akhir bulan dan ketidakpastian demonstrasi 2 Desember mendatang. “Permintaan dolar AS yang biasanya tinggi di akhir bulan serta ketidakpastian atas aksi demo Jumat mendatang bisa menjadi penyebab merosotnya nilai tukar rupiah,” kata Rangga.

Loading...