Berperan Penting dalam Revolusi, Hak Politik Wanita Libya Justru Dirampas

Hak Politik Wanita Libya Dirampas - www.dw.comHak Politik Wanita Libya Dirampas - www.dw.com

TRIPOLI – Ketika rezim Moammar Gadhafi jatuh pada tahun 2011 lalu akibat pemberontakan, harapan banyak perempuan di Libya untuk bekerja dan lebih diakui agaknya terbuka lebar. Sayangnya, setelah memainkan peran yang cukup penting dalam (dan ), kini perempuan di Libya malah semakin terpinggirkan, bahkan diperas dan diancam dibunuh.

“Saya selalu ingin menjadi seorang jurnalis, tetapi akhirnya harus belajar akuntansi karena yang bekerja di ketika pemerintahan Gadhafi memiliki reputasi setia kepada rezim,” ujar Fatma al Omrani, seorang perempuan Libya, di Zuwara, seperti dilansir DW. “Tidak ada kebebasan berekspresi, baik untuk wanita atau untuk orang lain.”

Namun, ketika terjadi pemberontakan, kesempatan tidak terduga datang kepadanya. Lahir dan dibesarkan di Misrata, Omrani lantas bekerja di stasiun radio di sana, dan suaranya menjadi akrab di telinga semua orang yang terkepung melalui stasiun radio yang dijalankan oleh para pemberontak. Setelah itu, ia pindah ke Tripoli dan menjadi presenter TV perempuan pertama di ibukota Libya setelah perang.

“Sayangnya, reputasi sebagai seorang jurnalis tidak berlangsung lama. Semua orang mulai menghina saya, dan hanya satu pendengar yang mendukung saya,” sambung perempuan 28 tahun itu. “Saya segera mengerti bahwa kami para wanita telah memainkan peran kami selama perang, tetapi kami tidak lagi diperlukan untuk orang-orang yang memerintah .”

Saat ini, bangunan yang pernah menjadi tempat rahasia Gadhafi adalah markas besar aktivis bahasa Amazigh (atau Berber). Selama tujuh tahun terakhir, minoritas utama Libya telah bekerja untuk menebus waktu yang hilang setelah empat dekade ketika bahasa mereka dilarang. Nuha al Hassi, seorang guru dan tokoh kunci di bidang , adalah satu-satunya perempuan di Zuwara yang tidak mengenakan cadar.

“Masalah utama negara ini adalah bahwa masih mustahil memisahkan agama dari politik,” kata Hassi. “Setelah perang, wanita Libya mengerti bahwa kami memiliki hak untuk berbicara mengenai pendapat kami dan untuk berpartisipasi dalam . Tetapi sekarang, mereka ingin mengambil semua yang sudah kami capai.”

Situasi juga tidak membaik di bagian timur negara, kawasan yang jarang dikunjungi wartawan. Pada bulan Februari 2017 lalu, juru bicara untuk Tentara Nasional Libya memproklamirkan diri mengumumkan bahwa semua wanita antara usia 18 tahun hingga 45 tahun harus disertai oleh mohram, wali laki-laki, ketika bepergian ke luar negeri.

Otoritas keagamaan di pemerintahan Tripoli telah berusaha untuk mengadopsi aturan yang sama beberapa tahun sebelumnya. Tetapi fatwa, atau fatwa Islam, mengenai hal demikian tidak pernah diucapkan secara resmi. Pada tahun 2014, pengacara terkenal dan aktivis hak-hak perempuan, Salwa Bugaighis, ditembak mati di rumahnya di Benghazi. Dia adalah korban yang paling terlihat dalam serentetan pembunuhan dan penghilangan perempuan yang aktif secara politik.

“Pembunuhan Salwa Bugaighis adalah titik balik negatif bagi perempuan di Libya yang telah secara aktif berusaha untuk berpartisipasi dalam kehidupan publik dan politik setelah pemberontakan 2011,” kata Heba Morayef dari Amnesty . “Ada eskalasi kekerasan berbasis gender terhadap perempuan yang terus berjuang untuk inklusi politik.”

Sementara itu, direktur Association for the Sophistication of Arab Women, Zeituna Moamer, menyoroti meningkatnya peran wanita Libya sejak akhir perang. Menurutnya, selama pemerintahan Gadhafi, hal yang paling dekat dengan masyarakat sipil adalah Pramuka dan organisasi pemuda. “Saat ini, wanita jauh lebih sadar akan hak kami dan kami jauh lebih terorganisasi,” kata ahli hukum berusia 50 tahun itu.

“Sementara masih banyak yang harus dilakukan, tidak perlu memisahkan agama dari politik. Kami adalah negara Muslim, dan itu adalah sifat kami,” sambung Moamer. “Saya berusaha mendorong perempuan untuk mengecam agresi yang ditujukan kepada mereka. Banyak yang diperkosa di Libya, tetapi mereka tidak punya tempat untuk pergi, dan mereka bahkan tidak berani mengatakan.”

Loading...