Bergerak Fluktuatif, Rupiah Akhirnya Ditutup Melemah Tipis

Rupiah - www.indopos.co.idRupiah - www.indopos.co.id

Setelah bergerak fluktuatif sepanjang Jumat (27/4) ini, akhirnya menutup di area merah. Menurut paparan Index pukul 15.58 WIB, mata uang Garuda menyelesaikan akhir pekan dengan pelemahan tipis sebesar 2 poin atau 0,01% ke level Rp13.893 per dolar AS, setelah bergerak di kisaran Rp13.875 hingga Rp13.897 per dolar AS.

Sebelumnya, rupiah ditutup menguat 30 poin atau 0,22% di posisi Rp13.891 per dolar AS pada perdagangan Kamis (26/4) kemarin. Tren positif mata uang NKRI berlanjut pagi tadi dengan dibuka naik 16 poin atau 0,12% ke level Rp13.875 per dolar AS. Setelah bergerak mixed, spot akhirnya harus menutup transaksi di zona negatif.

Sementara itu, Bank siang tadi menetapkan tengah berada di level Rp13.879 per dolar AS, mengalami apresiasi sebesar 51 poin atau 0,37% dari perdagangan sebelumnya di posisi Rp13.930 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia perkasa versus greenback, dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,50% menghampiri won Korea Selatan.

Dari , indeks dolar AS bertahan di area level tertinggi 3,5 bulan pada hari Jumat, yang masih didorong sentimen yield AS, ditambah nada dovish dari European Central Bank (ECB) yang menghambat gerak euro. Mata uang Paman Sam tersebut hanya melemah 0,037 poin atau 0,04% ke level 91,524 pada pukul 12.13 WIB.

Seperti diberitakan Reuters, imbal hasil obligasi AS dengan tenor 10 tahun telah mencapai kenaikan 3%, tanda penting psikologis di tengah kekhawatiran tentang inflasi dan peningkatan utang akibat kebijakan pemotongan pajak oleh Presiden Donald Trump. Sebelumnya, korelasi antara imbal hasil dan dolar AS telah menurun karena lebih fokus pada friksi perdagangan dan masalah geopolitik.

Di sisi lain, ECB dalam rapat kebijakan Kamis setempat menuturkan bahwa mereka setuju untuk mempertahankan kebijakan moneter saat ini. Hal tersebut memberikan ruang bagi Gubernur ECB, Mario Draghi, untuk mempertimbangkan kekhawatiran pelemahan zona Eropa, karena rilis data di sepanjang kuartal pertama tidak sesuai prediksi.

“Kami berharap, Draghi mengesampingkan risiko pemulihan ekonomi, sementara tetap waspada bahwa perlambatan pertumbuhan dapat terjadi sewaktu-waktu,” kata dua ekonom Bloomberg, Jamie Murray dan David Powell, seperti dikutip dari . “Namun, risiko tetap akan menjadi kejutan dovish.”

Loading...