Bergerak Fluktuatif, Rupiah Akhirnya Berakhir Menguat

Rupiah akhirnya mampu tetap menguat pada transaksi Senin (19/11) sore - www.thejakartapost.com

JAKARTA – Setelah bergerak cukup fluktuatif sepanjang , akhirnya mampu tetap pada Senin (19/11) sore, meski indeks juga bergerak positif terhadap sekeranjang mata uang lainnya. Menurut data Bloomberg Index pada pukul 15.59 WIB, mata uang Garuda menguat 24 poin atau 0,16% ke level Rp14.588 per AS.

Sementara itu, siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.586 per dolar AS, menguat 8 poin atau 0,05% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.594 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia berbalik terdepresiasi terhadap greenback, dengan pelemahan terdalam sebesar 0,42% menghampiri baht Thailand.

Dari pasar , indeks dolar AS terpantau naik tipis terhadap mata uang utama lainnya pada hari Senin, meski pejabat Federal Reserve menyatakan kehati-hatian atas prospek pertumbuhan , mendorong investor untuk menilai kembali laju kenaikan AS di masa mendatang. Mata uang Paman Sam menguat tipis 0,028 poin atau 0,03% ke level 96,493 pada pukul 11.19 WIB.

Seperti diberitakan Reuters, dolar AS telah menikmati pergerakan yang kuat sepanjang tahun ini berkat pengetatan kebijakan , setelah pertumbuhan ekonomi Paman Sam dinilai cukup solid dan dukungan pertumbuhan upah. Kenaikan suku bunga keempat untuk tahun ini diharapkan terjadi pada bulan depan dan pembuat kebijakan telah mengindikasikan dua kenaikan lagi pada Juni 2019.

Namun, komentar oleh Wakil Ketua The Fed yang baru diangkat, Richard Clarida, pada hari Jumat (16/11) waktu setempat, membuat pasar menjadi sedikit bimbang untuk kecepatan pengetatan yang stabil. Clarida memperingatkan tentang perlambatan pertumbuhan global, dengan mengatakan ‘itu adalah sesuatu yang akan relevan’ untuk prospek ekonomi AS.

Menurut kepala strategi pasar di CMC Markets, Michael McCarthy, pasar keuangan global telah secara pasti menafsirkan pernyataan ini sebagai dovish. Namun, ia menambahkan bahwa Federal Reserve selalu bergantung pada data ekonomi terbaru dan sejauh itu, dan karenanya ini seharusnya tidak terlalu mengejutkan.

Loading...