Bergaji Rendah, Pekerjaan Informal di ASEAN Mampu Kurangi Pengangguran

Pekerjaan Informal di ASEAN Mampu Kurangi Pengangguran - beritadaerah.co.idPekerjaan Informal di ASEAN Mampu Kurangi Pengangguran - beritadaerah.co.id

Pekerjaan di sektor informal, seperti kaki lima, buruh sawah, serta pengasuh anak-anak, telah membantu mencegah gejolak ekonomi dan politik di negara-negara , terutama di sektor tenaga kerja. Namun, di sisi lain, sektor informal seringkali bermasalah dengan pendapatan (gaji rendah) sekaligus cenderung tidak memiliki perlindungan atau asuransi.

Menurut FT Confidential Research yang dirangkum dari , Indonesia sebagai ekonomi terbesar di ASEAN berhasil mengurangi angka pengangguran melalui sektor informal, meski terjadi penurunan PDB tahunan. Sebagian besar sektor informal di Tanah Air menyerap pekerja dan juga yang dipecat dari pabrik, tambang, dan perkebunan.

Pada bulan Februari 2017, sektor informal Indonesia mempekerjakan 58,4 persen dari total populasi pekerja, meningkat dari bulan Agustus 2016 yang sebesar 57,6 persen. Sementara, antara bulan Februari 2016 hingga Februari 2017, sektor informal menambahkan 2,4 juta lapangan pekerjaan, lebih dari sektor formal yang menghasilkan 1,6 juta lapangan kerja. Gambaran serupa juga ditemukan di Filipina, Thailand, dan Vietnam.

Namun, kondisi berbeda terjadi di Malaysia. Tingkat pengangguran pada bulan Juni 2014 memang hanya 3,4 persen, tetapi masih sedikit meningkat dalam beberapa tahun terakhir karena pertumbuhan yang melambat. Menurut survei FT Confidential Research, orang-orang Malaysia juga paling pesimistis mengenai prospek keamanan dan gaji jika bekerja di sektor informal.

Temuan ini menunjukkan bagaimana kerja Malaysia lebih rentan terhadap perlambatan ekonomi, akibat industrialisasi yang relatif maju dan integrasi yang lebih besar dengan ekonomi . Kedalaman pembangunan Malaysia tercermin dalam ukuran sektor pekerjaan formal, yang mempekerjakan 88,6 persen dari total angkatan kerja.

Meskipun sektor informal sangat diperlukan sebagai penyangga pada masa-masa sulit, namun hal ini, di sisi lain, berarti lebih dari 100 juta orang kekurangan perlindungan kerja, atau asuransi kesehatan atau pekerjaan. Di Indonesia, hanya 1,9 persen dari 72,7 juta pekerja sektor informal yang terdaftar sebagai anggota Badan Perlindungan Pekerja.

Pekerjaan sektor informal juga seringkali berarti upah rendah dengan sedikit prospek kenaikan gaji. Survei menemukan hanya 15,3 persen warga Malaysia yang mempertimbangkan pekerjaan lain, dibandingkan 28,9 persen di Filipina dan 25,3 persen di Indonesia. Bagi mereka yang sedang mempertimbangkan perubahan, gaji rendah adalah alasan nomor satu, diikuti oleh prospek karir yang buruk dan keinginan untuk beralih ke karir lain.

“Pemulihan permintaan Asia Tenggara harus memperbaiki prospek pekerjaan dan tingkat pendapatan,” tulis FT Confidential Research .”Negara dengan rasio terhadap PDB yang lebih tinggi, seperti Malaysia, Thailand dan Vietnam, akan mendapatkan keuntungan paling banyak. Tren serupa berlaku di Indonesia dan Filipina, namun perluasan pasar di kedua negara ini kurang bergantung dari dibandingkan konsumsi rumah tangga.”

Loading...