Berfungsi untuk Diagnosis Asma, Harga Peak Flow Meter Berkisar Mulai Rp 300 Ribuan

Peak Flow Meter - id.aliexpress.comPeak Flow Meter - id.aliexpress.com

Penyakit yang menyerang saluran seperti asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) tak bisa dianggap remeh. Pasalnya, gangguan pada sistem ini prevalensinya terus mengalami peningkatan dari waktu ke waktu di Indonesia. Berdasarkan data Riset Dasar 2013, prevalensi asma mencapai 4,5% dari total populasi di Indonesia, sedangkan PPOK mencapai 6,3%.

Menurut paru dari RS Persahabatan, Prof Faisal Yunus MD, Ph.D, meningkatnya prevalensi kedua penyakit yang menyerang pernapasan ini salah satunya akibat kurang akuratnya diagnosis akibat belum tersedianya diagnosis untuk kedua penyakit ini di seluruh dan juga puskesmas.

Lebih lanjut Prof Faisal menyatakan jika tak semua kesehatan di Tanah Air mempunyai alat pengukur puncak ekspirasi atau peak flow meter. Padahal dengan alat ini dokter bisa mendeteksi apakah penyakit asma yang diderita oleh pasien telah terkontrol atau belum. “Karena tujuan pengobatan kita adalah agar pasien memiliki asma yang terkontrol dalam artian tidak ada serangan di malam hari sehingga seperti orang normal,” kata Prof Faisal, seperti dilansir Suara.

Sebenarnya alat peak flow meter sendiri saat ini telah dijual bebas di berbagai alat kesehatan (alkes) maupun secara online di sejumlah situs e-commerce. Setidaknya ada berbagai merek alat cek asma atau peak flow meter yang beredar di pasaran. Misalnya saja seperti Peak Flowmeter Philips Respironics yang dijual dengan Rp 550 ribu, Rossmax Peak Flow Meter PF-120C seharga Rp 300 ribuan, hingga Microlife PF 100 seharga Rp 834 ribuan.

Demikian halnya dengan diagnosis PPOK. Ia menuturkan, peningkatan kasus PPOK terjadi lantaran meningkatnya jumlah perokok di Indonesia. Di samping itu juga karena minimnya ketersediaan alat spirometri untuk mendiagnosis PPOK. “Sayangnya belum semua rumah sakit memiliki alat ini. Sehingga diagnosis hanya sekedar menanyakan pasien ada keluhan ini atau tidak. Diagnosis menjadi tidak akurat sehingga pengobatan juga tidak tepat,” sambungnya.

Sementara itu, untuk obat-obatan asma memang telah termasuk dalam BPJS meski tak semua puskesmas menyediakannya. Akibatnya pasien pun kesulitan memperoleh obat-obatan yang seharusnya diperoleh sebagai peserta BPJS.

Loading...