Berfungsi Menghitung Volume, Harga Meteran Air Merk Itron Berbeda-beda Tergantung Ukuran

harga, meteran, air, merk, itron, PDAM, hujan, sistem, kerja, digital, peka, tekanan, dalam, pipa, distribusi, tiga, komponen, angin, tagihan, baling-baling, pelanggan, ukuran, Indonesia, inch, mmMeteran air merek Itron (sumber: aetra.co.id)

merupakan sebuah yang berfungsi untuk menghitung volume yang didistribusikan oleh PDAM ( Daerah Minum) ke pelanggan, sehingga dapat ditentukan berapa jumlah tagihan yang harus dibayarkan oleh pelanggan.

Setidaknya ada tiga meteran air yang ada, antara lain register, rangkaian roda gigi (gear), dan bagian pengukur (measuring chamber). Sedangkan, dari meteran air bisa dilihat beberapa informasi seperti tipe meter (jenis meter yang menjadi acuan pembuatan meter), nominal flowrate (Qn) atau jumlah debit acuan tingkat kemampuan ukur meter air, dan metrology class yang merupakan klasifikasi kelas meter berdasarkan nilai akurasi.

Salah satu meteran air yang beredar di adalah merk Itron. Ada beberapa , mulai dari 3 inch (80mm), 1 inch (25mm), 8 inch (100mm), ¾ inch (20mm), dan lainnya. Untuk , misalnya ukuran ½ inch dijual sekitar Rp 550 ribuan. tentu saja berbeda jika ukuran juga berbeda.

Untuk mengetahui berapa besar tagihan air, maka bisa dihitung dari meteran air. Tetapi, kondisi cuaca bisa saja memengaruhi kerja meteran air. Seperti yang terjadi di Tarakan, Kalimantan Timur. Hujan mulai mengguyur dalam waktu yang lama, mengobati persoalan krisis air yang dihadapi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Alam Tarakan.

Meski belum maksimal beroperasi, namun Direktur PDAM Tirta Alam Tarakan Said Usman Assegaf mengaku dengan dukungan air baku yang kembali mengisi embung, mampu memenuhi kebutuhan air bersih sebagian warga Tarakan.

“Untuk (instalasi pengelolaan air) Persemaian, Juwata Laut itu normal. Untuk Kampung Bugis belum bisa disuplai Kampung Satu, karena Kampung Bugis ini instalasinya disuplai 60 persen dari embung Kampung Satu, 40 persen itu dari sungai,” ujar Usman Assegaf.

Menurut Usman, kondisi embung di Kampung Satu memang sudah terisi juga oleh air hujan. Namun, pendistribusian ke rumah-rumah pelanggan belum normal, karena volume airnya belum mencapai kapasitas maksimal, yang berdampak pada kemampuan dorongan air di dalam pipa distribusi PDAM.

“Ada air naik kira-kira setengah meter. Cuma di sana belum bisa juga full. Karena setelah terjadi kekeringan selama beberapa bulan, pipa itu kan kosong, air-air itu kan harus memenuhi dulu pipa. Setelah pipa itu penuh, baru dia bisa mendorong,” tuturnya.

Kondisi tersebut memengaruhi meteran air di rumah-rumah pelanggan yang berimbas pada tagihan yang harus dibayar. Usman mengakui pihaknya menerima keluhan beberapa pelanggan, karena membayar tagihan air kemahalan di saat air tidak mengalir. Bahkan, salah satu pelanggan yang mengeluh adalah keluarganya sendiri.

Menurut Usman, keluarganya harus membayar lebih dari Rp 1 juta. Padahal, merasa tidak menggunakan air PDAM. “Kemarin ipar saya sendiri membayar sejumlah Rp 1,3 juta tanpa ada air, tanpa menggunakan air,” ujarnya.

Itu terjadi lantaran kerja meteran air yang mendekati digital, peka dengan tekanan yang ada di dalam pipa distribusi, meskipun berupa angin. Ditambah lagi kelalaian pelanggan yang tetap membuka keran meteran air sehingga mendorong angin menggerakkan baling-baling meteran.

Loading...