Berfungsi Menangkal Infeksi Organ Hati, Harga Vaksin Euvax B Berkisar Puluhan Ribu Hingga Jutaan Rupiah

Euvax B - (Sumber: vaxcorpindo.com)Euvax B - (Sumber: vaxcorpindo.com)

Vaksin merupakan salah satu tindakan yang harus dipenuhi oleh wali atau orangtua terhadap anak. Saat ini, salah satu vaksin yang mulai digalakkan untuk diberikan sedini mungkin adalah vaksin Hepatitis B. Vaksin ini dimaksudkan untuk menangkal infeksi organ hati yang disebabkan oleh virus Hepatitis B.

Salah satu vaksin Hepatitis B yang biasa diberikan adalah Euvax B, harganya sekitar Rp 91.000-200.000, tergantung usia yang diberi vaksin, apakah anak-anak atau dewasa. Anda dapat melakukan vaksin ini di puskesmas atau sakit yang menyediakan layanan tersebut. Tetapi, vaksin tersebut bisa saja berbeda di tiap tempat, ada pula yang menyediakan layanan vaksin hepatitis B dengan sekitar Rp 4 jutaan.

Menurut American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan para dengan berat badan normal menerima dosis pertama vaksin hepatitis B dalam 24 jam pertama setelah lahir. Pemberian vaksin ini akan meningkatkan proteksi terhadap virus hepatitis B.

“Saat bayi terinfeksi di periode kelahirannya atau saat ia dilahirkan, potensi komplikasi fatal akibat hepatitis B lebih besar,” ujar spesialis anak sekaligus anggota AAP, Elizabeth Barnett.

Bahaya virus hepatitis B sendiri yaitu menyerang organ hati dan memicu terjadinya sirosis hati, gagal hati, dan kanker hati.Virus tersebut dapat menyebar melalui kontak cairan dan darah.

Di negara berkembang, seperti di , pemberian vaksin ternyata berhubungan dengan tingkat pendidikan ibu. Kalangan ibu berpendidikan tinggi, ada kecenderungan berupaya untuk mendapatkan vaksin bagi anaknya dan bahkan tersedia untuk membelinya.

“Kalau dia berpendidikan tinggi, dia mencari vaksinnya dan akan lengkap vaksinasinya. Dari media sosial dia bisa mencari sendiri kebutuhan vaksin untuk anaknya,” tutur dr. Elizabeth Jane, MPH, Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan, Kementerian Kesehatan.

“Yang justru tantangan itu yang tingkat pendidikannya yang nanggung. Jadi di Indonesia itu mending yang pendidikan rendah. Kasarnya kita tinggal pukul gong, mereka kumpul, lalu anak disuntik,” tambahnya.

Ibu-ibu berpendidikan nanggung itu biasanya sering mendengar atau terhasut berita-berita hoax, dan jumlahnya semakin banyak. Hal itu yang menjadikan tantangan imunisasi semakin berat.

“Kalau dulu, misalnya 30 tahun yang lalu, itu sebagian besar pendidikan rendah dan dengan mudah kita dapat sekitar 65%. Tinggal pukul gong. Disuruh kumpul, anak mereka disuntik, dan tidak tanya disuntik apa karena mereka percaya. Sekitar 30 tahun terakhir ini, sudah ada pendidikan tapi mungkin terbatas, mereka gampang dipengaruhi black campaign (kampanye hitam),” ujar dr. Elizabeth Jane Soepardi.

Di negara-negara maju, memperlihatkan bukti bahwa kaitan antara pendidikan dan imunisasi justru bertolakbelakang. Sebuah penelitian di Amerika Serikat menunjukkan bahwa ibu-ibu dengan pendidikan di bawah 12 tahun cenderung untuk menuntaskan imunisasi anaknya dibanding ibu-ibu berpendidikan akademi.

Para tidak yakin apa yang menjadi penyebabnya namun mengutip beberapa faktor seperti sikap budaya atas kebutuhan anak-anak di kalangan Hispanik, yang secara umum mendapat pendidikan formal lebih rendah dibanding etnis lain di Amerika Serikat.

 

Loading...