Berfungsi Memeriksa Saluran Telur, Biaya HSG 2018 Dipatok Variatif

Ilustrasi : Pasangan suami istri yang menginginkan buah hati

Masalah bagi pasangan memang menjadi hal yang sangat penting. Bagi pasangan yang telah menikah tentunya ingin segera diberi momongan. Namun kadang ada beberapa pasangan yang mungkin sudah menunggu sekian lamanya dan masih belum memiliki keturunan. Sayangnya stigma yang beredar di masyarakat selalu menempatkan perempuan sebagai akar dari masalah infertilitas. Padahal laki-laki pun juga mempunyai risiko infertilitas yang setara dengan perempuan.

Dalam dunia medis disebutkan bahwa individu tergolong infertil apabila sudah melakukan aktivitas seksual selama setahun namun masih belum terjadi pembuahan. Aktivitas seksual idealnya dilakukan secara rutin, yaitu 2-3 kali setiap minggu tanpa memakai alat kontrasepsi.

Apabila sudah memenuhi batasan medis tersebut pasangan heteroseksual disarankan untuk segera memeriksakan diri ke kandungan. Pihak biasanya akan diminta melakukan pemeriksaan HSG atau ronsen saluran . Sedangkan pihak laki-laki akan diminta melakukan analisis . “Karena melibatkan bertemunya sel dengan sel , maka harus dicek kemungkinan masalah pada keduanya,” kata dr. Robbi Asri Wicaksono, SpOG, seperti dilansir Tirto.

HSG atau Histerosalpingografi adalah pemeriksaan tuba falopi dengan sinar X yang dibantu dengan cairan kontras yang dimasukkan ke rongga rahim dan saluran telur (tuba falopi). Pemeriksaan satu ini tujuannya mendiagnosis adanya sumbatan pada salah satu atau kedua saluran telur yang bisa menghambat bertemunya sel sperma dan sel telur.

Pemeriksaan HSG dipatok dengan biaya yang bervariasi, tergantung di mana pasien melakukannya. Sebagai contoh, berdasarkan informasi tahun 2018, biaya HSG di Hi-Lab Yogyakarta dibanderol sekitar Rp 800 ribuan, kemudian di RSU Bunda berkisar mulai Rp 1,2 jutaan hingga Rp 2 jutaan, di Rumah Sakit (RS) Hermina Tangerang sekitar Rp 1,2 jutaan, dan di Lab Pramita berkisar Rp 1,96 jutaan.

Sedangkan pada laki-laki, dan kuantitas sperma yang menjadi masalah utama, sehingga perlu dinilai juga melalui analisis sperma. “Sangat jarang infertilitas karena ereksi dini, hampir tidak ada, kecuali dikarenakan penyakit lain. Nah, makanya blunder ketika yang diperiksa hanya perempuannya saja,” pungkas dr. Robbi.

Loading...