Berefek Terbatas, Kebijakan Fiskal Bukan Solusi Atasi Masalah Ekonomi Asia

Untuk menangani perlambatan pada tahun ini, beberapa menganjurkan untuk melakukan kebijakan fiskal. Namun, dengan kesenjangan yang jauh antara negara berkembang dengan negara maju dan hanya memiliki efek jangka pendek, kebijakan pelonggaran fiskal dinilai bukan solusi yang tepat.

Memang, global yang , jatuhnya , dan perlambatan ekonomi di China telah menjadi penyebab bruto () negara Asia berjalan di tempat. Karena itu, banyak yang menyerukan kebijakan fiskal untuk menangani masalah ini. Namun yang perlu diingat, melonggarkan fiskal terkadang hanya memiliki efek yang terbatas.

“Masalah utamanya adalah negara-negara di Asia memiliki pendapatan fiskal yang sangat rendah dibandingkan dengan pengeluaran, sehingga rentan defisit,” papar Chief Economist di Natixis dan Peneliti Senior di Bruegel, Brussels, Alicia Garcia-Herrero. “Pendapatan fiskal mayoritas negara Asia sebagai bagian dari PDB masih di bawah 25 persen, khususnya di negara berkembang.”

Bahkan tanpa mengadopsi kebijakan pro-pertumbuhan yang agresif, tambah Alicia, pendapatan domestik secara alami menurun tajam. “Ini akibat nilai tambah, impor, , dan pendapatan pajak penghasilan yang cenderung menurun,” sambungnya.

Indonesia merupakan negara yang paling rentan dalam jangka pendek karena setidaknya memiliki ruang untuk melonggarkan fiskal. Dalam hal rasio jangka pendek dari pendapatan pemerintah terhadap PDB, Indonesia menempati urutan terburuk, diikuti oleh Taiwan, Jepang, dan Malaysia. Indonesia juga tidak memiliki rencana untuk meningkatkan keseimbangan fiskal dalam jangka pendek selain pelaksanaan RUU tax amnesty.

Bagi China, kesinambungan fiskal mungkin tidak menjadi masalah dalam jangka pendek karena pemerintah dapat mendanai pertumbuhan dalam negeri dan tingkat utang yang masih rendah. Tapi, tidak berarti bahwa kebijakan fiskal yang pro-pertumbuhan bisa berjalan dalam waktu yang lama.

“Singkatnya, negara di Asia mungkin lebih pas beralih ke ide John Maynard Keynes tentang pembiayaan defisit untuk mencerahkan prospek pertumbuhan domestik di saat permintaan yang lemah,” lanjut Alicia. “Tetapi, kemampuan melakukannya terbatas untuk negara-negara yang ingin menjaga kewajiban pemerintah, sebagian karena penurunan siklus yang menyeret pendapatan.”

Loading...