Berbahan Kayu dan RedFlex Carbon, Harga Itc Premier Xr Dibanderol Rp 995 Ribuan

bahan, kayu, redflex, carbon, bet, tenis, meja, pingpong, olahraga, atlet, difabel, karet, pemukul, khusus, berat, ketebalan, 90gram, gr, g, 5,9, mm, berbagai, merek, warna, merah, hitam, speed, power, alat, merek, Itc, Premier, XrITC-Premier-XR (source: ttspot.co.uk)

tenis meja merupakan salah satu olahraga yang cukup populer. Untuk memulai olahraga tersebut, Anda membutuhkan setidaknya 2 (pemain), sebuah meja tenis, bola, dan juga pemukul/raket khusus tenis meja (ping pong).

Khusus untuk alat pemukulnya (bet), dapat Anda temukan di toko penyedia perlengkapan olahraga. Alat tersebut juga dijual dengan berbagai merek, salah satunya ITC Premier XR. yang dibanderol sekitar Rp 995.000. yang digunakan pada karet bet adalah RedFlex Carbon pada pegangannya, dengan 90gram (gr/g), ketebalan 5,9mm. Dan, pada bagian pemukulnya, menggunakan bahan kayu.

Pada umumnya, bet yang digunakan di tenis meja berwarna merah dan hitam. Sebenarnya, dahulu tenis meja tidak memiliki peraturan harus menggunakan bet yang berwarna merah dan hitam. Pada dasarnya, karet pada bet memiliki dua kemampuan yang berbeda. Memang tidak begitu terlihat secara jelas, namun perbedaan itu tetap ada.

Dahulu, salah satu sisi bet tenis meja memiliki power yang kuat. Sehingga bola akan dilemparkan lebih mudah ke arah lawan. Sementara, sisi lainnya memiliki kemampuan speed. Dulu, banyak pemain tenis meja yang selalu menduga-duga lawan akan memukul dengan apa? Speed atau power? Untuk itulah, diberlakukan aturan bed tenis meja yang dibedakan, yakni warna merah dan hitam.

Olahraga tenis meja (ping pong) sudah dimainkan oleh sebagian besar orang, dari berbagai kalangan. Tidak terkecuali dengan penyandang difabel. Bahkan, mereka sudah dijadikan sebagai tenis meja yang mengikuti kejuaraan di berbagai tingkat.

Leli, salah satu atlet tenis meja mengatakan bahwa dirinya pada awalnya hanya coba-coba saja. “Saya diperkenalkan dengan seorang pelatih tenis meja pernah ikut ajang (olahraga disabilitas) ini,” ujar peraih medali perunggu di ASEAN Para Games Singapura 2015 tersebut.

Sebagai atlet difabel, tak jarang Leli mendapat pengalaman yang kurang menyenangkan saat awal mula bermain tenis meja. “Waktu latihan, ada (suasana) seperti diremehkan begitu karena kondisi Leli. Kalau di Riau, Leli ikut klubnya bareng dengan atlet normal, hanya Leli saja yang begini. Cara mengatasinya (perlakuan remeh) dengan ketawa saja dan menunjukkan lewat permainan terbaik,” ujarnya

Tidak seperti Leli, Nikmat mengatakan dirinya sudah sejak kelas 3 SD memegang bet dan hobi bermain tenis meja. “Saya awalnya ikut tim NPC (Komite Paralimpiade Indonesia) tidak niat hati, karena saya merasa diri saya tidak berkekurangan. Kemudian saya diperkenalkan oleh seorang atlet renang yang mencari atlet baru. Saya di seleksi dan lolos pada 2007.”

“Yang memotivasi orang tua khususnya bapak saya. Dan terutama suami dan anak saya,” tutur Nikmat yang juga berprofesi sebagai guru SMP honorer di Pekanbaru tersebut.

Selama menjadi atlet difabel, Nikmat mengaku mendapat banyak pelajaran berharga. Ia bersyukur keterbatasan yang ia punya sedikit lebih baik daripada kawan-kawannya yang lain.

“Ternyata di luar sana masih banyak yang berkekurangan daripada diri saya. Awalnya saya merasa diri saya rendah, ‘Kenapa diri saya seperti ini yang lain tidak?’ Ternyata setelah saya gabung di NPC, banyak yang lebih parah disabilitasnya dari saya,” tuturnya.

Loading...