Beranggotakan Berbagai Bank, Biaya Penarikan Di ATM Bersama Maksimal Rp 7.500

ATM, Bersama, berbagai, transaksi, penarikan, tunai, nasabah, transfer, cek, saldo, NPG, BI, fungsi, Link, ALTO, dan, Prima, kebijakan, bank, gratis, kartu, terminal, anggota, national, payment, gateway, berlakuIlustrasi: ATM Bersama (blog.vokamo.com)

Bersama merupakan sebuah bagi yang memungkinkan pemegang kartu ATM untuk dapat memanfaatkan seluruh terminal ATM di yang tergabung dalam ATM Bersama.

Hampir semua bank memiliki terminal ATM yang telah menjadi anggota ATM Bersama. Bank yang tergabung tidak hanya bank pemerintah, tetapi juga bank swasta nasional. Selain itu, tergabung pula di dalamnya Bank-bank Pembangunan Daerah, bank asing, sampai ke BPR (Bank Perkreditan Rakyat). Jumlah anggotanya kurang lebih 87 bank.

Di ATM Bersama, Anda bisa melakukan berbagai , mulai dari penarikan tunai atau cash withdrawal, cek saldo atau balance inquiry, dan antar bank atau pemindahan dana melalui ATM ke berbagai bank.

Nasabah yang melakukan transaksi melalui ATM Bersama tidak selalu dikenakan . Hal tersebut tergantung kepada dan strategi ke nasabah masing-masing bank penerbit kartu. Ada beberapa bank yang tidak mengenakan biaya sama sekali atau gratis. Namun, beberapa bank lain menerapkan biaya kepada nasabahnya.

Saat ini, ada beberapa biaya yang berlaku. Misalnya untuk penarikan tunai di ATM Bersama, nasabah akan dikenai biaya maksimal Rp 7.500, transfer Rp 6.500, dan cek saldo Rp 4.000. Akan tetapi, biaya tersebut masih bisa berkurang apabila NPG (National Payment Gateway) sudah berlaku.

“Mengembangkan Gerbang Pembayaran Nasional nantinya betul-betul jadi dasar ritel supaya efisien. Enggak perlu di dalam dompet ada kartu beragam, cukup 1 kartu,” kata Gubernur BI, Agus Martowardojo.

NPG sudah direncanakan sejak 20 tahun lalu. Dengan adanya NPG, transaksi antar bank bisa lebih efisien. “Setelah hampir 20 tahun, akhirnya NPG sudah bisa diluncurkan. NPG akan buat efisiensi besar, membuat kita lebih resilience, dan lebih kompetitif,” ujar Agus.

Agus menambahkan, sebagai pengawas sistem pembayaran dalam penyelenggaraan NPG menunjuk tiga lembaga yang menjalankan. Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) akan menjadi lembaga standar di NPG ini karena representasi dari industri sistem pembayaran nasional.

Setelah lembaga standar ada juga lembaga switching yang harus memperoleh izin penyelenggara dari BI. Lembaga ini sudah melaksanakan pemrosesan pembayaran transaksi pembayaran secara domestik menggunakan infrastruktur yang dimiliki di Indonesia.

Kemudian, perusahaan juga harus mampu memiliki kapasitas untuk melaksanakan fungsi switching di NPG. Kemudian lembaga perusahaan memiliki modal disetor paling sedikit Rp 50 miliar.

Contoh perusahaan switching adalah ATM Bersama, Link, ALTO, dan Prima. Merekalah perusahaan switching nasional yang selama ini memproses transaksi pembayaran menggunakan kartu debit.

Terakhir, adalah lembaga services yang berbentuk PT. Lembaga ini harus mampu dan memiliki kapasitas untuk melaksanakan fungsi services di NPG.  “Ada tiga unsur dibangun, lembaga standar, switching dan services,” kata Agus.

Loading...