Bendung Crypto dan Stablecoin, Bank Sentral Siapkan Mata Uang Digital Sendiri

Bank Sentral Eropa - www.equiti.comBank Sentral Eropa - www.equiti.com

LONDON/BEIJING – Dihadapkan dengan melonjaknya popularitas cryptocurrency semacam bitcoin serta tren secara online selama pandemi Covid-19, bank sentral di sejumlah telah mempertimbangkan untuk memproduksi digital mereka sendiri. Selain untuk menangkal kepopuleran crypto, upaya ini juga dilakukan guna mengantisipasi stablecoin yang mungkin dapat mengancam keberadaan tradisional.

Seperti diwartakan TRT World, dengan dukungan Jerman, Bank Sentral Eropa atau ECB kabarnya sedang mempertimbangkan euro digital yang dapat dijamin oleh bank sentral, yang pada gilirannya berpotensi menawarkan keamanan yang lebih besar daripada bank komersial. ECB juga telah berbicara tentang kemungkinan merilis kartu pembayaran pribadi dan akun akan ditautkan ke euro digital.

Penerbitan dan euro digital nantinya dapat dilakukan dengan menggunakan yang mirip dengan blockchain. Keputusan resmi tentang bagaimana melanjutkan proyek tersebut diharapkan terjadi pada tahun ini, di tengah kekhawatiran Eropa seputar perlindungan privasi. Meski demikian, ECB menekankan bahwa euro digital tidak akan menggantikan uang tunai dan tidak boleh dilihat sebagai mata uang crypto. Sementara satu bitcoin saat ini bernilai sekitar 60.000 , ECB telah mencatat bahwa satu euro harus tetap satu euro.

Sekitar 13 tahun setelah penciptaan bitcoin, walau pasar cryptocurrency yang lebih luas telah membengkak hingga melebihi 2,0 triliun dolar AS, penggunaannya sebagai alat pembayaran memang belum lepas landas. Karena itu, ECB tampaknya mempertimbangkan euro digital lebih karena ancaman yang ditimbulkan oleh stablecoin, seperti unit Diem yang direncanakan didukung oleh Facebook, daripada bitcoin.

Stablecoin memang dipandang kurang stabil daripada cryptocurrency karena mereka dipatok ke unit tradisional seperti euro dan dolar AS. Namun, jika Facebook mengaktifkan pembayaran di Diem untuk diproses di media jejaring sosial mereka, termasuk platform layanan pengiriman pesan populer, WhatsApp, mata uang tradisional diprediksi dapat menderita.

Sementara itu, bank sentral China telah mengerjakan mata uang digital sejak 2014 lalu dan saat ini sedang menguji penggunaan yuan digital atau e-CNY. Negeri Panda sudah banyak yang menggunakan pembayaran seluler dan online, tetapi yuan digital dapat memungkinkan bank sentral memiliki data dan kendali yang lebih besar atas pembayaran. Meskipun belum ada tanggal resmi, China berniat untuk memungkinkan atlet dan wisatawan asing menggunakan mata uang digitalnya selama Olimpiade Musim Dingin 2022 di Beijing.

Bank of England, bersama dengan pemerintah Inggris, sementara itu sedang mencari kemungkinan untuk menciptakan mata uang digital yang dapat digunakan oleh rumah tangga dan bisnis sebagai pengganti uang tunai, sebuah inisiatif dijuluki Menteri , Rishi Sunak, sebagai britcoin. Di AS, Federal Reserve sedang meneliti kemungkinan dolar AS siber untuk mengatasi risiko penipuan dan pemalsuan, tetapi masih belum bisa memastikannya.

Mata uang digital ini diharapkan berbeda dengan cryptocurrency. Seperti diketahui, penerbitan cryptocurrency seperti bitcoin diatur oleh algoritma, bukan oleh komite kebijakan moneter bank sentral. Sistem desentralisasi memastikan bahwa pembuat bitcoin tidak dapat mencetak uang baru, misalnya untuk membantu merangsang pertumbuhan ekonomi. Pada saat yang sama, bank sentral telah menyerang dunia cryptocurrency yang sangat spekulatif.

“Karena cryptocurrency menunggangi gelombang spekulasi, pemerintah (Inggris) akan berusaha untuk menjauhkan diri dari apa yang masih dipandang sebagai dunia pembayaran yang liar,” papar analis senior di pialang saham Hargreaves Lansdown, Susannah Streeter. “Daya tarik dari sistem desentralisasi masih mungkin untuk menjaga crypto tetap dalam sorotan spekulatif.”

Loading...