Belum Punya Suami? Ini Biaya Urus Surat Keterangan Muhrim untuk Umroh

Ibadah - rakatour.ripstore.asia

Jika Anda seorang wanita dan ingin melaksanakan ibadah umrah () ke Tanah Suci, Anda sebaiknya memang didampingi oleh laki-laki atau saudara yang merupakan muhrim atau mahram, untuk keamanan dan kenyamanan Anda selama beribadah. Tetapi, jika Anda tidak memilikinya, biro atau bisa ‘menyiasati’ dengan mengeluarkan keterangan mahram dengan tambahan sebesar Rp200 ribu sampai Rp300 ribuan.

“Rata-rata, umrah di operator umrah itu memang dikenakan biaya tambahan, seperti visa dan juga perlengkapan umrah,” ujar konsultan paket umrah dari Ramadina Travel, Yanti, seperti dikutip Kompas. “Di Ramadina Travel misalnya, ada biaya tambahan untuk visa, visa progresif (bagi yang melakukan ibadah umrah dua kali dalam tahun yang sama), perlengkapan umrah, surat muhrim atau mahram, suntik meningitis, tambahan nama, dan biaya pribadi serta asuransi perjalanan.”

Memang, dalam banyak kasus, ada wanita yang berusia di bawah 45 tahun yang harus berangkat ibadah umrah tanpa didampingi mahram. Karena syarat tersebut merupakan aturan mutlak dari pemerintah Arab Saudi, maka jasa travel kemudian ‘menyiasati’ dengan menerbitkan surat keterangan mahram, yang biasanya dipatok di kisaran biaya Rp200 ribu sampai Rp300 ribuan.

Mahram atau muhrim sendiri merupakan seseorang yang terikat hubungan perkawinan, persaudaraan, atau persusuan dengan seorang wanita yang dapat menjadi pendamping wanita dalam menunaikan ibadah atau umrah. Namun, para ulama berbeda pendapat tentang kedudukan muhrim bagi perempuan dalam melaksanakan ibadah atau umrah.

“Menurut Imam Syafi’i, perempuan boleh melakukan perjalanan jauh apabila bersama dengan perempuan muslimah, merdeka, dan dapat dipercaya,” kata Ketua Lembaga Bahtsul Masail PWNU Lampung, KH Munawir. “Sementara, menurut Imam Abu Hanifah, perempuan tidak boleh bepergian lebih dari tiga hari, kecuali ada suami atau mahram bersamanya.”

Dari kedua pendapat tersebut, KH Munawir menambahkan bahwa keberadaan mahram bisa dikatakan bukan merupakan syarat mutlak, melainkan syarat yang diperlukan dalam perjalanan yang tidak terjamin keamanannya, baik dari kejahatan maupun fitnah lainnya. Sementara, untuk masalah perempuan berhaji ketika idah, berdasarkan dalil syara’, secara tegas melarang perempuan yang dalam masa idah untuk keluar rumah.

Loading...