Belum Mampu Bangkit di Awal Dagang, Rupiah Tertekan Penguatan Dolar AS

Rupiah - jarrak.idRupiah - jarrak.id

Jakarta rupiah dibuka sebesar 19 poin atau 0,13 persen ke level Rp 14.386 per AS di awal pagi hari ini, Rabu (11/7). Kemarin, Selasa (10/7), nilai tukar rupiah berakhir terdepresiasi 37 poin atau 0,26 persen ke posisi Rp 14.367 per USD setelah diperdagangkan pada rentang angka Rp 14.318 hingga Rp 14.343 per dolar AS.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sejumlah utama terpantau menguat. Pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB, kurs dolar AS naik tipis sebesar 0,08 persen menjadi 94,153 lantaran para saat ini tengah mempertimbangkan sejumlah data ekonomi Amerika Serikat.

National Federation of Independent Business (NFIB) melaporkan pada Selasa (10/7) bahwa indeks optimisme bisnis kecil Amerika Serikat turun 0,6 poin dari Mei menjadi 107,2 pada Juni , demikian seperti dilansir Xinhua. Perolehan tersebut menurut NFIB masih tinggi menurut standar historis karena para pemilik bisnis terus menciptakan lapangan pekerjaan baru dan meningkatkan kompensasi. Indeks tersebut mengukur pendapat usaha kecil terkait kondisi ekonomi di Amerika Serikat.

Sedangkan dari sektor ekonomi, Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat melaporkan pada Selasa (10/7) bahwa jumlah lowongan pekerjaan meningkat tipis menjadi 6,6 juta pada hari kerja terakhir bulan Mei 2018, lebih rendah dari prediksi pasar.

Rupiah sendiri kemarin melemah di akhir perdagangan lantaran nilai tukar dolar AS kembali menguat. Menurut analis Monex Investindo, Faisyal, investor kini mulai menjauhi -aset berisiko seperti rupiah di tengah aksi profit taking dolar AS dan masalah politik yang terjadi di Inggris.

Peristiwa pengunduran diri Menteri Luar Negeri Inggris Boris Johnson dan pengunduran diri Menteri Brexit Inggris David Davis mengakibatkan pound sterling melemah dan kurs dolar AS semakin perkasa. “Saat ini dollar AS kembali menguat dibalik pelemahan mata uang lainnya,” ujar Faisyal seperti dilansir Kontan. Faisyal menambahkan, dari dalam negeri juga masih belum ada data terbaru yang dapat mempengaruhi gerak rupiah.

Loading...