Belum Ada Sentimen Pendukung, Gerak Rupiah Rentan Terkoreksi

Jakarta – Rupiah kembali ketika dibuka pada awal perdagangan pagi ini (19/1). Mata Garuda ini harus rela turun ke level Rp 13.932 per Dolar AS setelah tergerus 27 poin (0,19%) dari level penutupan kemarin. Padahal, Rupiah sudah sempat menanjak 5 poin ketika ditutup pada level Rp 13.905/USD pada Senin sore (18/1).

Pelemahan Rupiah tak dapat dicegah setelah diketahui terus tertekan akibat pernyataan Iran yang siap menggelontorkan minyaknya pasca dicabutnya sanksi embargo di negara tersebut. Perkiraan akan kembali menumpuknya pasokan mentah membuat semakin anjlok.

“Penguatan yang kami perkirakan sifatnya masih hanya sementara seiring penurunan harga minyak yang berimbas pada komoditas lainnya akan ikut menekan yang berbasis komoditas seperti Rupiah,” terang , Kepala Riset PT NH Korindo Securities Indonesia, dalam risetnya (19/1).

Tak hanya tentang harga minyak, laju yang sempat tertolong oleh rilis kenaikan house price index diperkirakan akan kembali stagnan jelang rilis data ekonomi kuartal IV/2015 . Kebijakan yang dilakukan oleh PBoC memicu pelaku untuk melakukan aksi beli terhadap Yuan dan membuat mata uang tersebut bisa bertahan terhadap Yen dan Dolar AS, meski sifatnya hanya sementara.

“Rilis data ekonomi AS yang kurang memuaskan membuat pelaku pasar mempunyai celah untuk memanfaatkan keunggulan di tengah kurang stabilnya pasar global. Data ekonomi Tiongkok yang diperkirakan stagnan membuat Rupiah terbatas dan cenderung melemah,” papar Reza.

Reza meramalkan, Rupiah masih sangat rentan terkoreksi pada pergerakannya sepanjang hari ini. Terlebih setelah Indonesia memangkas BI Rate pada akhir pekan lalu. Rupiah diprediksi bertahan di level support Rp 13.910/USD dengan level resisten Rp 13.870/USD.

Loading...