Belanja Online dan Upah Stagnan ‘Pukul’ Pertumbuhan Department Store di Indonesia

Belanja Online dan Upah Stagnan ‘Pukul’ Pertumbuhan Department Store di Indonesia

JAKARTA – Setelah mengalami yang pesat selama bertahun-tahun, angka penjualan di ritel di , khususnya department store, mulai turun. Perkembangan bisnis e-commerce yang melonjak, yang membuat lebih senang berbelanja secara online, menjadi salah satu penyebabnya, selain upah atau gaji pegawai yang stagnan sehingga menyebabkan tingkat melambat.

Nikkei melaporkan bahwa tingkat pertumbuhan untuk department store di Indonesia saat ini turun pada tingkat satu digit, dari semula 10 persen dalam beberapa tahun terakhir. online merupakan salah satu penyebab merosotnya pamor toko ritel, selain perlambatan dalam secara keseluruhan akibat pertumbuhan upah atau gaji pegawai yang lesu.

Beberapa situs e-commerce terkenal, di antaranya Tokopedia yang merupakan salah satu pasar online terbesar di Indonesia, dan Lazada dari Alibaba Group Holding ‘menyedot’ pembeli dari toko konvensional, sebuah yang tidak menunjukkan tanda-tanda mereda. Penjualan online diproyeksikan terus naik pada tingkat tahunan yang cepat, sekitar 20 persen untuk masa yang akan datang.

Pertumbuhan penggunaan smartphone juga memacu aktivitas belanja online, terutama di daerah pedesaan ketika keberadaan toko ritel modern masih sedikit dan cukup jauh. Hal ini lantas menyebabkan penutupan toko di seluruh negeri. Pada akhir Juni lalu, semua toko swalayan 7-Eleven di Indonesia menutup toko mereka. Lalu, di bulan September kemarin, Matahari Department Store, rantai department store terbesar, terpaksa menutup dua toko mereka di kawasan Jakarta selatan.

Tetapi, kenaikan belanja online hanya menceritakan sebagian dari merosotnya popularitas toko ritel konvensional. Alasan utama perlambatan belanja konsumen di Tanah Air adalah tingkat pertumbuhan upah yang lemah. Tingkat pertumbuhan upah minimum diprediksi akan melambat menjadi 8,71 persen pada tahun 2018, terendah dalam beberapa tahun terakhir, sekaligus akan ‘memukul’ mereka yang berpenghasilan rendah.

Dengan populasi lebih dari 250 juta jiwa, Indonesia sebenarnya merupakan pasar konsumen terbesar di Tenggara. Banyak ekonom mengatakan konsumsi negara akan terus meningkat dalam jangka panjang. Tetapi, bagaimanapun, ritel Indonesia sedang menghadapi krisis, dan pemerintah tidak membantu situasi ini. Jika tren ini berlanjut, gelombang kejut berikutnya mungkin akan melanda sektor ekonomi lainnya, yang berpotensi mengurangi langsung dari pihak asing di pasar konsumen dalam negeri.

Loading...