Komitmen NATO dan Ancaman Rusia, Belanja Militer Jerman Terus Meningkat

Anggota Militer Jerman - www.defensenews.comAnggota Militer Jerman - www.defensenews.com

BERLIN – untuk kebutuhan secara mencapai angka 1,9 triliun dolar AS sepanjang tahun 2019, atau angka tertinggi sejak tahun 1988 silam. Meski AS dan China masih memimpin pengeluaran tertinggi, namun tidak ada yang melakukan pengeluaran besar secara rutin dari tahun ke tahun untuk kebutuhan sebanyak , demikian laporan Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI).

Dilansir dari Deutsche Welle, dibandingkan tahun 2018, pengeluaran global untuk militer sepanjang tahun lalu mengalami peningkatan sebesar 3,6%, sekaligus peningkatan tahunan terbesar sejak 2010. Di Jerman, pengeluaran naik 10% menjadi 49,3 miliar dolar AS, peningkatan pertahanan terbesar di antara 15 negara bagian dunia ketika menyangkut pengeluaran militer.

“Ada tekanan pada Jerman untuk meningkatkan pengeluaran militer sejak sebelum pemerintahan Presiden Donald Trump,” kata Max Mutschler dari Bonn International Center for Conversion (BICC), sebuah penelitian perdamaian dan konflik. “Dampak dari tekanan ini sekarang menjadi jelas. Namun, orang harus mengatakan bahwa pengeluaran masih jauh di bawah angka 2%.”

Pada KTT NATO di Wales tahun 2014 lalu, anggota setuju untuk memenuhi tujuan menghabiskan setidaknya 2% dari PDB mereka untuk pertahanan dalam dekade berikutnya. Selain komitmen NATO, peneliti SIPRI, Diego Lopes da Silva, juga mengaitkan peningkatan anggaran pertahanan Jerman dengan situasi geopolitik di Eropa dan fakta bahwa ‘Rusia sekali lagi dianggap lebih sebagai ancaman’. Jerman tidak sendirian, dan banyak negara NATO lainnya memantau perkembangan di Rusia dengan hati-hati.

Dari 15 negara di dunia dengan anggaran pertahanan tertinggi, enam adalah anggota NATO, yakni Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Inggris, dan Amerika Serikat. Gabungan pengeluaran militer mereka mencapai hampir setengah dari jumlah total dunia. Pada 2019, total pengeluaran militer 29 negara anggota NATO adalah sekitar 1,04 triliun dolar AS, sebuah angka yang tidak mengejutkan menurut Mutschler.

“Pengeluaran militer didasarkan pada skenario terburuk. Meski publik sering menganggap konflik antara negara berada di latar depan, ancaman konflik militer bisa hadir di latar belakang,” katanya. “Berkenaan dengan ketegangan antara AS dan China, kami tidak tahu apakah akan ada konflik bersenjata atau tidak. Jadi, militer di kedua negara sedang mempersiapkan kemungkinan ini, dan mereka sangat baik dalam hal melobi untuk lebih banyak dana.”

Menurut laporan SIPRI, pada tahun 2019, AS bertanggung jawab atas 38% dari pengeluaran militer global, dengan total 732 miliar dolar AS. Dana itu digunakan untuk menutupi sekitar 16.000 personel militer tambahan, bersama dengan modernisasi persenjataan konvensional dan persenjataan nuklirnya. Para ahli juga melihat peningkatan itu sebagai respons terhadap China, yang menempati urutan kedua setelah AS dalam hal pengeluaran militer. Anggaran Beijing menyumbang 14% dari pengeluaran militer global pada 2019 dan naik lebih dari 5% menjadi 261 miliar dolar AS.

Di Benua Asia, pengeluaran militer saingan China, tenaga nuklir India, juga cukup besar, meningkat hampir 7% menjadi 71,1 miliar dolar AS sepanjang tahun lalu. Dijelaskan Siemon Wezeman, seorang peneliti senior di SIPRI, ketegangan dengan negara-negara tetangga, seperti Pakistan dan China, adalah alasan utama yang membuat Negeri Sungai Gangga meningkatkan pengeluarannya secara dramatis.

Sementara, di Timur Tengah, Arab Saudi jauh di depan negara-negara tetangga, menghabiskan 61,9 miliar dolar AS pada 2019, meskipun ini sebenarnya penurunan 16% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Angka itu merupakan perkembangan yang mengejutkan, menurut laporan SIPRI, merujuk operasi militer Kerajaan Arab Saudi yang sedang berlangsung di Yaman dan meningkatnya ketegangan dengan Iran.

Dibandingkan para pembelanja top di atas, pengeluaran militer di negara-negara lain mungkin tidak ada artinya. Negara-negara Amerika Selatan ‘cuma’ menghabiskan 53 miliar dolar AS pada 2019, dan Brasil bertanggung jawab atas setengahnya. Sementara, pengeluaran negara di kawasan Asia Tenggara total 41 miliar dolar AS, sedangkan seluruh Benua Afrika menghabiskan 42 miliar dolar AS.

Loading...