Bantuan Asing Disetop, Ekonomi Afghanistan Anjlok Usai Direbut Taliban

Ilustrasi: warga Kabul, Afghanistan (sumber: nytimes.com)Ilustrasi: warga Kabul, Afghanistan (sumber: nytimes.com)

KABUL – Sejak merebut ibukota , Kabul, setelah sebelumnya mengambil alih sebagian negara tersebut, kelompok Taliban berusaha untuk mengubah dirinya dari kekuatan tempur menjadi badan pemerintahan yang sah. Namun, sejak saat itu pula, negara, yang sebagian bergantung pada bantuan asing dan sumber eksternal, menjadi rapuh karena arus masuk AS telah dihentikan oleh mitra Barat, termasuk .

Seorang mantan polisi, dilansir TRT World, berujar bahwa dirinya sekarang benar-benar tersesat, tidak tahu apa yang harus ia lakukan terlebih dahulu, apakah keselamatan dan kelangsungan hidupnya atau memberi makan anak dan keluarganya. Ia sendiri sekarang telah kehilangan gaji sebesar 260 dolar AS per bulan yang biasa digunakan untuk menghidupi istri dan keempat anaknya. Demikian pula, banyak pegawai tingkat bawah yang tidak menerima gaji selama dua bulan terakhir.

Sejak AS menginvasi Afghanistan pada 2001 silam, ekonomi rapuh negara yang dilanda itu sangat bergantung pada aliran dolar AS dari luar. Sebagian besar pengeluaran pemerintah telah ditutupi oleh bantuan Barat, dan sekarang telah dipotong setelah pengambilalihan Taliban. “Semuanya karena situasi dolar AS. Ada beberapa toko makanan buka, tetapi bazar kosong,” kata seorang mantan pegawai pemerintah yang sekarang bersembunyi karena takut akan Taliban.

Dampak buruk penurunan ekonomi sudah terasa di jalan-jalan Kota Kabul. Karena masih tutup, banyak warga tidak dapat menarik uang dari rekening mereka. Mereka juga tidak dapat menerima bantuan keuangan dari luar negeri dan diaspora karena Western Union telah menutup operasinya. Pengiriman uang memang sangat penting bagi keluarga di Afghanistan. Dunia memperkirakan bahwa pengiriman uang mencapai 789 juta dolar AS pada tahun 2020, sekitar 4 persen dari PDB.

Sekitar dua pertiga penduduk hidup di bawah garis , dengan pendapatan kurang dari 1,90 dolar AS per hari, menurut Asian Development Bank (ADB), atau naik 55 persen dibandingkan tahun 2017. Baru-baru ini, IMF juga menangguhkan akses Afghanistan ke sumber daya mereka, termasuk sekitar 440 juta dolar AS dalam cadangan moneter baru, karena kurangnya kejelasan tentang pemerintah negara itu.

Ketika Taliban mencoba membuktikan bahwa mereka dapat memimpin sebuah negara, dengan kurangnya jumlah uang yang signifikan, berarti kelompok itu akan menghadapi tantangan berat untuk memenuhi janjinya. Salah satu tantangannya adalah Afghanistan secara teknis merupakan ekonomi tunai. Menurut laporan Bank Dunia 2018, hanya 10 persen dari populasi orang dewasa yang sudah memiliki rekening bank.

Sekarang aliran dolar AS telah ditutup dan cadangan Afghanistan diparkir di AS. Dengan IMF berada di luar jangkauan Taliban, lokal tidak memiliki peluang untuk bertahan. Fitch Solutions, bagian analisis dan penelitian dari Fitch Group, memperingatkan bahwa ekonomi Afghanistan dapat menyusut sebanyak 20 persen pada tahun ini dan mata uangnya mungkin merosot lebih jauh dari yang telah terjadi setelah pengambilalihan Taliban.

Loading...