Bank Sentral Kompak Dovish, Rupiah Loyo di Kamis Sore

Rupiah - bisnis.comRupiah - bisnis.com

JAKARTA – tidak punya tenaga untuk bergerak ke teritori hijau pada Kamis (28/3) sore, setelah indeks dolar AS cenderung menguat seiring dengan nada dovish dari beberapa dunia. Menurut paparan Index pada pukul 15.15 WIB, Garuda melemah 35 poin atau 0,25% ke level Rp14.243 per dolar AS.

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.255 per dolar AS, terdepresiasi 53 poin atau 0,37% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.202 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia takluk versus greenback, dengan pelemahan terdalam sebesar 0,24% dialami peso Filipina.

Dari , indeks dolar AS relatif bergerak naik pada hari Kamis karena sebagian besar rekan-rekannya melemah, setelah lebih banyak bank sentral memilih untuk beralih ke sikap kebijakan dovish di belakang perlambatan prospek . Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,102 poin atau 0,11% menuju level 96,876 pada pukul 11.40 WIB.

Diberitakan Reuters, kebijakan terbaru datang dari Reserve Bank of New Zealand (RBNZ), yang mengejutkan pasar pada hari Rabu (27/3) kemarin, dengan mengatakan langkah selanjutnya dalam suku bunga kemungkinan akan turun, bergabung dengan sejumlah bank sentral lainnya yang terus berubah ke nada dovish. Dengan banyak rekan-rekannya bersikap defensif, greenback telah mampu mengesampingkan penurunan patokan imbal hasil Treasury AS ke posisi terendah 15-bulan.

“Imbal hasil memang bergerak lebih rendah. Tetapi, ini tidak memengaruhi dolar AS karena imbal hasil Treasury masih pada tingkat yang menarik, setelah di zona Euro dan Selandia Baru berubah dovish,” kata General Manager di Gaitame.Com Research Institute, Takuya Kanda. “Jadi, mata uang seperti euro, yang terseret oleh negatif Jerman, dan dolar Selandia Baru yang menderita kerugian dan memungkinkan greenback untuk bergerak naik.”

Euro memang naik lebih tinggi ke level 1,1252 terhadap dolar AS. Namun, mata uang tunggal masih kehilangan 0,45% sepanjang minggu ini dengan benchmark yield 10-tahun telah jatuh ke level terendah 2,5 tahun minus 0,09%. Kenaikan euro sendiri terbatas setelah Presiden Bank Sentral Eropa, Mario Draghi, mengatakan kenaikan suku bunga dapat ditunda lebih lanjut.

Loading...