Bank Mandiri Kejar Aset Off-shore yang Tertimbun di Singapura

Sejak tahun lalu PT Tbk telah berencana untuk membidik klien yang berasal dari kalangan orang kaya Indonesia dengan membuka layanan private banking. Berdasarkan dari Direktorat Jenderal Pajak terkait program amnesti pajak, pemerintah berhasil mengumpulkan Rp 741,6 triliun yang mayoritas berasal dari aset yang disimpan di , yakni Singapura.

“Kami sedang dalam proses mendapatkan upgrade lisensi di Singapura untuk memanfaatkan pengelolaan kekayaan individu. Pada bulan Maret kami ingin meluncurkan layanan offshore kami,” ujar Direktur Utama Bank Mandiri, Kartika Wirjoatmodjo, seperti dilansir Nikkei Asian Review.

Langkah ini termasuk keputusan yang besar bagi Bank Mandiri. Perolehan aset yang direpatriasi dari Singapura telah mendorong Bank Mandiri yakin untuk mulai melebarkan sayapnya. Pasalnya aset yang dipulangkan tersebut lebih besar dari buku pinjaman Mandiri yang mencapai Rp 729,5 triliun pada bulan Desember 2017 lalu.

“Kami ingin memulai dengan mengetuk klien kami, karena kami tahu bahwa klien kami juga memiliki investasi lepas pantai. Dalam 2-3 tahun ke depan, kami tetap fokus pada segmen itu, segmennya besar,” ucap Kartika.

Pialang Mandiri secara resmi memulai operasinya di Singapura sejak tahun lalu setelah diberi lisensi sekuritas. Langkah ini memungkinkan Bank Mandiri untuk melacak pembukuan dari serangkaian perusahaan Indonesia yang berhasil menginjak , seperti penerbitan USD 200 juta oleh produsen sawit Tunas Baru Lampung pada bulan Januari.

Sejak krisis keuangan yang melanda Asia, orang-orang Indonesia memanfaatkan kedekatan dengan Singapura yang dinilai sebagai pasar keuangan yang stabil dan tingkat pajak yang rendah. Menurut Bank Dunia, utang sektor swasta Indonesia hanya 39% dari produk domestik bruto (PDB), yang merupakan rasio terendah di antara 5 negara teratas ASEAN.

Angka tersebut menurun 52% tahun 1996 sebelum krisis keuangan. Sementara itu, pada saat yang bersamaan utang sektor swasta Singapura meningkat dari 94% menjadi 133%. Ketidakseimbangan itu pla yang membatasi pertumbuhan Bank Mandiri selaku bank dengan aset terbesar di Indonesia, tetapi hanya menduduki posisi ke-10 di Asia Tenggara. “Kami punya tantangan struktural. Banyak dana pihak ketiga Indonesia berada di negara tetangga, jadi rasio loan to PDB rendah namun pertumbuhan dana pihak ketiga juga tidak tinggi,” jelas Kartika.

Pada 2017 margin bunga bersih Mandiri (selisih antara suku bunga pinjaman dan pinjaman) turun 0,57% menjadi 5,87%. Kartika menuturkan jika angka tersebut tidak mungkin meningkat tahun ini. “Pada 2018 kami berharap bisa mengelola (suku bunga) dengan cara yang lebih lancar dan biaya dana lebih baik. Itu akan menciptakan platform untuk pertumbuhan yang lebih kuat,” tandasnya.

Loading...