Banjir Sentimen Negatif, Rupiah Berakhir Melemah 0,37%

Rupiah melemah pada perdagangan Senin (21/6) sore - medcom.id

praktis tidak memiliki cukup otot untuk bangkit ke teritori hijau pada Senin (21/6) sore, ketika sentimen negatif terus menghantam, baik dari dalam maupun luar negeri. Menurut laporan Index pada pukul 14.59 WIB, Garuda berakhir melemah 52,5 poin atau 0,37% ke level Rp14.427,5 per AS.

Sejumlah mata uang juga terpantau tidak berdaya melawan greenback. Peso Filipina menjadi yang terpuruk setelah terdepresiasi 0,4%, disusul baht Thailand dan dolar Taiwan yang sama-sama melemah 0,37%, won Korea Selatan yang turun 0,21%, dan ringgit Malaysia yang terkoreksi tipis 0,02%. Sebaliknya, yen Jepang dan rupee India mampu menguat masing-masing 0,14% dan 0,3%.

“Rupiah hari ini berpotensi masih melemah karena kondisi penularan Covid-19 yang meninggi selama beberapa hari terakhir. Kondisi ini bisa memicu penguncian kembali (lockdown) yang lebih luas untuk menekan penularan dan ini bisa berdampak negatif ke perekonomian,” kata analis uang, Ariston Tjendra, pagi tadi seperti dilansir dari CNN Indonesia. “Tak hanya itu, sentimen dari juga masih bisa menekan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.”

Senada, analisis CNBC Indonesia menuliskan bahwa aura taper tantrum begitu terasa karena nada The Fed yang lebih hawkish, terlihat di dot plot arah suku bunga acuan. Dalam outlook Maret, ada empat anggota Federal Open Market Committee (FOMC) yang menilai suku bunga acuan sudah bisa naik pada 2022. Sementara, tujuh anggota lain berpendapat Federal Funds Rate baru bisa naik pada 2023.

Dari pasar global, dolar bertahan di dekat puncak multi-bulan terhadap mata uang utama lainnya pada hari Senin, setelah pekan lalu Federal Reserve mengejutkan pasar dengan memberi sinyal akan menaikkan suku bunga dan mengakhiri pembelian obligasi darurat lebih cepat dari yang diharapkan. Mata uang Paman Sam terpantau menguat 0,068 poin atau 0,07% ke level 92,293 pada pukul 11.32 WIB.

Dilansir dari Reuters, aset berisiko kembali mendapat pukulan setelah Presiden Federal Reserve St. Louis, James Bullard, mengatakan bahwa pergeseran bank sentral AS menuju pengetatan kebijakan moneter yang lebih cepat adalah respons ‘alami’ terhadap pertumbuhan dan khususnya inflasi yang bergerak lebih. “Dot plot The Fed adalah kejutan yang berarti. Dalam skenario ketika pasar terus menggerakkan harga Fed ke arah yang hawkish, kita bisa membayangkan euro/dolar AS jatuh 2%,” tulis analis di Goldman Sachs.

Loading...