Bangun Pelabuhan & Bandara, China Perluas Pengaruh Militer Lewat Belt and Road

China Bangun Pelabuhan & Bandara - www.scmp.comChina Bangun Pelabuhan & Bandara - www.scmp.com

SIHANOUKVILLE – Belt and Road (Belt and Road Initiative atau BRI) adalah salah satu upaya China yang awalnya ditujukan untuk meningkatkan dan memperbaiki jalur perdagangan dan antar- di Asia dan sekitarnya. Namun, dengan jaringan pelabuhan dan , China disebut-sebut akan memperbesar pengaruh mereka dalam bidang dan politik.

Dilansir Nikkei, awal bulan ini, Pangkalan Angkatan Ream di pantai barat Kamboja telah menarik perhatian AS karena diklaim berpotensi menjadi tuan rumah kehadiran militer Tiongkok. Sebuah laporan Wall Street Journal minggu ini mengatakan, China dan Kamboja telah menandatangani perjanjian rahasia yang memungkinkan Beijing untuk menggunakan Ream selama 30 tahun.

Pentagon sendiri telah lama mengklaim bahwa investasi BRI China yang luas di pelabuhan dan lapangan terbang di seluruh dunia memiliki komponen militer yang strategis. Dijuluki ‘untaian mutiara’, jaringan pelabuhan dan fasilitas logistik memungkinkan China untuk memproyeksikan kekuatan militer dan mengamankan jalur laut yang vital, terutama di titik-titik yang dilalui pasokan energinya.

Dalam laporan tahunan baru-baru ini kepada Kongres AS, Pentagon menulis bahwa beberapa investasi BRI ‘dapat menciptakan potensi keuntungan militer’ untuk Negeri Tirai Bambu. Mereka pun meramalkan bahwa Beijing akan berusaha untuk menambah pangkalan luar negeri kedua setelah pembukaan sebuah pos di Djibouti pada tahun 2017 lalu, yang digambarkan China sebagai ‘fasilitas logistik’.

“Tidak diragukan bahwa infrastruktur sangat diminati di negara berkembang,” kata Carl Thayer, profesor emeritus di Universitas New South Wales dan pakar keamanan Asia Tenggara. “Motivasi untuk pembangunan pelabuhan dan bandara adalah peningkatan perdagangan dan pariwisata. Ini telah berakar kuat pada alasan ekonomi. Syarat yang akan dimasukkan oleh Bank Pembangunan Asia atau Bank Dunia, tidak ada di China. Anda mendapatkan persetujuan lebih mudah dan lebih awal.”

Menurut Kementerian Transportasi China, perusahaan-perusahaan mereka telah terlibat dalam pembangunan atau operasi setidaknya 42 pelabuhan di 34 negara, dari Eropa dan Afrika, ke Timur Tengah, Asia, dan Amerika Selatan. Di Asia, Pelabuhan Gwadar di Pakistan, Pelabuhan Kyaukpyu di Myanmar, Pelabuhan Hambantota di Sri Lanka, dan pariwisata di Provinsi Koh Kong, Kamboja termasuk di antara yang diduga memiliki potensi penggunaan militer.

Dalam sebuah forum bulan ini, Menteri Pertahanan China, Wei Fenge, secara eksplisit menghubungkan ikatan keamanan yang lebih dalam dengan BRI ketika berpidato di hadapan para pemimpin militer dari Karibia dan Pasifik Selatan. Komentarnya datang dengan latar belakang meningkatnya ketegangan di Laut China Selatan yang disengketakan, dengan China baru-baru ini meluncurkan rudal dari salah satu pulau buatan militernya.

Di Kyaukpyu, di pantai barat daya Rakhine Myanmar, sebuah konsorsium pimpinan China memimpin pelabuhan senilai 1,3 miliar dolar AS dan pengembangan zona ekonomi khusus. Proyek besar itu adalah bagian dari rencana yang lebih luas, yang dikenal sebagai koridor ekonomi Tiongkok-Myanmar. Menurut akademik Sean Turnell, seorang ahli Myanmar dan penasihat ekonomi senior untuk pemerintahnya, seluruh pelabuhan sama sekali tidak masuk akal secara ekonomi untuk Myanmar, tetapi sangat masuk akal bagi China.

Sementara, di Kamboja, politik dalam negeri menyediakan konteks untuk investasi BRI yang sedang berkembang di China. Ini termasuk pengembangan Union Development Group seluas 360 km persegi di Koh Kong, dengan pembangunan landasan terbang terpanjang di negara itu dan pelabuhan laut dalam yang langsung mengangkat alis para pengamat tentang potensi penggunaan ganda.

Tempat-tempat ini dikutip dalam ‘Harbored Ambitions’, sebuah laporan tahun 2018 oleh kelompok riset nirlaba C4ADS yang berbasis di Washington, yang melihat kemungkinan fasilitas penggunaan ganda yang dapat membantu operasi angkatan laut Beijing. Namun, para ahli berhati-hati untuk tidak melihat investasi BRI secara eksklusif melalui lensa strategi militer, sambil mengatakan masalah ini beragam dan mencakup motivator ekonomi dan politik, baik di Tiongkok maupun di negara penerima.

“Tidak ada asap tanpa api adalah salah satu cara untuk menggambarkannya, pasti ada potensi untuk penggunaan ganda,” ujar Charlie Thame, seorang dosen ilmu politik di Universitas Thammasat di Bangkok. “Namun, orang cenderung melihatnya, baik dari sudut pandang strategi militer murni atau dari sudut pandang politik atau ekonomi murni, dan sering gagal untuk memberikan analisis yang jauh tentang bagaimana spektrum kepentingan yang berbeda memotivasi pejabat China untuk mendapatkan akses.”

Loading...